SELAMAT DATANG

Terima kasih Anda telah mengunjungi web sederhana ini. Anda yang berkunjung sengaja, atau mungkin nyasar, atau karena alasan apa saja.

Web ini diaktifkan kembali karena saya ingin mendokumentasikan apa yang saya refleksikan tentang kehidupan. Jadi, jangan heran jika yang tertulis berisi tema-tema yang beragam. Hal ini semata-mata karena saya tidak pernah membatasi diri dalam membaca kehidupan.

Ingin lebih detail mengenai saya, silahkan masuk ke “Tentang“. Sedangkan “kicauan” saya silahkan difollow di @InspirasiTantan.

Selamat menikmati. Silahkan klik like jika Anda berkenan pada situs ini. Dan silahkan tinggalkan komentar jika Anda merasa ada hal-hal yang ingin didiskusikan lebih jauh.

Jika ada hal yang dirasa perlu untuk dikomunikasikan lebih dalam, silahkan hubungi di email saya: hermansah.tantan@gmail.com

Menggagas Gerakan Satu Orang Satu Komunitas (One Man One Community)

Dasar Pemikiran

Krisis, kehancuran nilai, chaos, peluruhan rasa kebangsaan, dan berbagai problem sosial yang terjadi di masyarakat saat ini merupakan gejala sosiologis, antropologis, psikologis, dan politis yang harus disikapi dengan kewaspadaan. Membebankan seluruh penyelesaian problem tersebut kepada Negara juga sangat susah. Negara saat ini sudah dibebani banyak persoalan akut yang tidak kunjung selesai: korupsi yang melekat pada sistem birorasi dan aparat penegak hukum, aparat birokrasi yang tidak (kunjung) professional, penataan system demokrasi yang semakin berkualitas, dan sebagainya, adalah beban Negara yang mendesak dilaksanakan.

Berangkat dari fakta-fakta di atas, maka perlu dibangun satu gerakan baru yang berbasis masyarakat. Satu gerakan yang tumbuh, melekat dan mengakar di masyarakat. Gerakan yang seluruhnya merupakan aplikasi dan implementasi dari kehendak masyarakat menjadi komunitas lebih baik.

Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan dari gerakan ini adalah:

  1. Membangun satu gerakan sosial yang ditumbuhkan dari, oleh, dan untuk masyarakat;
  2. Gerakan ini untuk menghidupkan kembali satu kapasitas baru dalam masyarakat, yakni satu energi kepedulian terhadap sesama, orang terdekat di lingkungannya, dengan kekuatan semampu yang dia bisa;
  3. Dalam lingkup yang lebih besar, gerakan ini dimaksudkan untuk membantu Negara menyelesaikan beberapa persoalan yang kerap terjadi pada masyarakat dengan kapasitas masyarakat itu sendiri.

Nama Kegiatan

Kegiatan ini diberi nama: One Man One Community (OMOC) atau Satu Orang Satu Komunitas.

Sistem Gerakan

Gerakan ini dibangun melalui dua agenda:

  1. Agenda Peningkatan dan Pengayaan Kapasitas
  2. Agenda Praksis dan Implementasi

Rasanya, Memang Ada yang Tidak Beres dengan Anggota DPR Kita



(tribunnews.com)

Rasanya memang benar ada yang tidak beres dengan anggota DPR kita ini.

Tempo hari bilang gedung DPR tempat mereka kerja miring 7 derajat, oleh karena itu harus dibangun gedung yang baru dengan biaya sampai Rp 1,6 triliun. Tetapi ternyata gedung tersebut terbukti tidak miring. Jadi, kemungkinan besar otak merekalah yang miring.

Kemudian mengalokasi dana sebesar Rp 4 miliar hanya untuk membeli mesin absensi sidik jari. Dengan alasan supaya anggota DPR itu bisa lebih disiplin dan lebih rajin ikut rapat. Padahal mereka itu ‘kan bukan sekumpulan balita yang untuk disiplin saja harus dipaksa dengan sebuah mesin.  Apalagi dengan harga sampai Rp 4 miliar itu.

Sekarang ini, mungkin karena belum juga diobati, tingkat ketidakberesan otak mereka menjadi semakin parah, dengan dalam tempo relatif singkat mengadakan tiga renovasi sekaligus dalam waktu yang berdekatan.

Pertama, renovasi toilet di gedung DPR dengan biaya Rp 2 miliar. Meskipun yang direnovasi jumlah totalnya ada 200-an toilet, tetapi menurut pengamatan wartawan, sebagian besar darinya masih berfungsi baik. Alias sebenarnya tidak perlu direnovasi. Kalau pun semuanya harus direnovasi, berarti untuk setiap toilet biaya renovasinya saja bisa mencapai Rp 10 juta?!

Dengan demikian, apa yang dibuang di toilet itu, bisa menjadi kalah busuk dengan pemikiran merenovasi toilet saja dengan biaya sekian besar itu.

Kedua, renovasi tempat parkir motor dengan biaya sebesar Rp 3 miliar. Diperkirakan akan menjadi tempat parkir motor termahal di dunia.

Ketiga, merupakan tingkat tertinggi untuk saat ini ketidakwarasan itu, yakni  renovasi ruang rapat Badan Anggaran (Banggar) DPR yang luasnya sekitar 10 m x 10 m, dengan biaya sebesar  Rp 20 miliar, tepatnya Rp. 20.370.893.000.

Kenapa bisa semahal itu?

Antara lain karena, kursi-kursi saja diimpor dari Jerman. Kursi dengan desain utama berwarna putih itu didesain oleh Vitra Company, sebuah perusahaan desain perabot terkemuka dari Jerman.
Pintu ruang rapatnya diganti dengan kayu jati tebal dan kedap suara. Mungkin maksudnya supaya kalau sedang rapat jual-beli anggarannya bisa lebih terjamin kerahasiaannya. Mengingat, terjadinya beberapa kebocoran yang terjadi akhir-akhir ini. Sampai-sampai membuat mereka harus adu urat dengan KPK.

Semua(rencana) pembangunan dan renovasi dengan anggaran yang sedemikian besar itu tidak perlu sampai terjadi, apabila renovasi yang dilakukan itu benar-benar tepat sasaran. Yakni, seharusnya yang direnovasi itu adalah justru manusia-manusianya. Bukan gedungnya, bukan toiletnya, bukan tempat parkirnya, dan bukan pula ruang rapat Banggar-nya.

Sebab manusia-manusia yang kerap disebut sebagai “anggota dewan yang terhormat” itu banyak yang kalau bukan tingkat kewarasannya diragukan, maka besar kemungkinan adalah segerombolan garong yang sedang menyamar sebagai anggota dewan.

Dengan biaya renovasi toiletnya saja sampai Rp 2 miliar, renovasi tempat parkir motor saja Rp 3 miliar, dan renovasi ruang rapat Banggar sebesar Rp 20 miliar, — kursinya saja didisain dan diimpor khusus dari Jerman –, apakah kita bisa bayangkan, seandainya “mobnas” Kiat Esemka benar-benar jadi diproduksi massal setelah lolos berbagai syarat, para anggota DPR itu mau mengganti mobil dinasnya itu dengan Kiat Esemka yang konon harganya bisa di bawah Rp 100 juta itu? ***

Referensi:
http://berita.liputan6.com/read/370594/renovasi-toilet-dpr-habiskan-miliaran-rupiah
http://politik.vivanews.com/news/read/277229-dana-rp3-m-untuk-renovasi-parkir-motor-dpr
http://www.tribunnews.com/2012/01/12/melongok-renovasi-ruang-banggar-pintu-jati-yang-kedap-suara

Tulisan diambil dari:

http://politik.kompasiana.com/2012/01/14/rasanya-memang-ada-yang-tidak-beres-dengan-anggota-dpr-kita/

Komentar saya (menambahi).

Semoga Anggota DPR pembohong itu BURUT!

Badai Politik Partai Demokrat


 

Bagi lawan politiknya, apa yang menerpa demokrat saat ini bisa jadi merupakan keuntungan tersendiri. Terlebih, terhitung sejak tahun 2011 ini, semua partai yang menjadi kontestan Pemilu 2012 harus mampu memikat konstituen agar bisa mendapatkan kekuasaan.

Akan tetapi, bagi penulis, badai politik yang tengah merundung Demokrat ini justru merupakan keharusan. Bahkan ia muncul sudah menjadi kebutuhan politik sebuah partai untuk menunjukkan kekuatan ontologisnya di tengah pasar politik yang semakin ramai ini.

Mengapa? Hal ini didasarkan kepada beberapa alasan berikut: pertama, PD adalah partai yang tumbuh dari nol dan melakukan lompatan luar biasa secara politik. Maka wajar, ibarat buah hasil okulasi, genus PD tidak langsung menyentuh bumi. Ada sosok figur yang menjadi pohon utama sehingga partai ini eksis di belantara jagad politik Indonesia.

Kedua, PD tumbuh dan membesar yang terlalu cepat itu, menyebabkan dirinya seperti madu yang memancing banyak pihak untuk bergabung membesarkannya. Namun di dalam tubuhnya sendiri, sistem imunitas yang mampu menyaring virus masuk belum terbangun sepenuhnya.

Ketiga, PD adalah partai yang lahir sebagai antitesis dari partai yang sudah ada sebelum dan bahkan sesudahnya–setidaknya sampai saat ini. PD tidak seperti PKS, PKB, atau PAN yang mengandalkan basis tradisional. Sehingga ia bisa diisi, dimasuki, dan dimiliki oleh siapa saja. PD juga tidak seperti PPP, Golkar atau PDIP yang sudah memiliki karakter tersendiri dalam kultur politik di Indonesia.

Dengan segala kelebihannya tersebut, agar partai ini bisa terus eksis dan tidak lagi mengandalkan pokok batang utama sebagai sandaran, partai ini harus diuji. Jadi badai yang saat ini sedang mendera seluruh organ partai adalah proses untuk menjadi pohon besar dengan jati diri yang penuh keutamaan.

Hanya ujian yang mampu menjadikan seseorang, terlebih institusi seperti partai, yang bisa membuat mereka mengakar, membesar dan berarti. Ujian harus dijadikan momentum menemukan titik keseimbangan baru bagi seluruh urat nadi organisasi ini. Mungkin cara yang sederhana bagaimana melaluinya adalah dengan kembali ke fitrah partai, yakni Partai Demokrat.[]

Ujian dan Kedewasaan Politik

 

Ibarat sebuah pepatah. Tidak ada ujian, ya tidak naik kelas! Begitu saya memaknai apa yang tengah terjadi pada Partai Demokrat ini. Justru saya akan cemas sekali jika partai yang pertumbuhannya sangat cepat ini tidak didera badai ujian. Mengapa? Seperti pepatah tadi, tidak ada ujian, berarti tidak bisa naik kelas! Jika tidak naik kelas, maka berarti partai ini bisa dikatakan gagal.

Pentingnya ujian politk bagi PD, demikian Partai ini disingkat, bisa dilihat pada beberapa perspektif: Pertama, PD merupakan partai paling menggoda beberapa tahun belakangan ini. Sejumlah tokoh masyarakat, aademisi, aktivis, dll. bergabung menjadi kader. Sehingga berbondong-bondongnya kader baru ini menyebabkan partai mengalami obesitas karena tidak seimbangnya antara tinggi dan lebarnya tubuh partai.

Kedua, PD belum memiliki sistem kekebalan tubuh permanen yang bisa menyaring virus dan bakteri yang masuk. Alhasil tidak semua kader yang masuk adalah kader yang baik. Bisa jadi beberapa adalah virus jahat.

Ketiga, jika tidak diuji, maka tidak akan muncul loyalitas kader tersebut. Bahkan bisa jadi yang muncul adalah kepongahan karena berbagai keajaiban yang selama ini didapatkannya.

Keempat, selama ini kontribusi seorang figur demikian dominan dalam sistem internal PD. Padahal mendewakan figur adalah bunuh diri yang secara historis telah terbukti. Dengan ujian ini, maka seluruh kader bisa belajar bersama bahwa mengandalkan seseorang itu dalam sebuah lembaga besar merupakan sebuah ketidakpatutan berorganisasi.

***

Jadi saya yakin bahwa badai pasti berlalu dari Partai Demokrat selama partai ini dalam menghadapi badai yang kini tengah mendera itu, mengambil langkah-langkah berikut:

  1. Melakukan evaluasi kritis atas kultur yang terjadi dalam manajemen kepartaian selama ini. Dengan melakukan evaluasi ini maka bisa ditelusuri apa yang menjadi akar masalahnya. Sebab tidak ada masalah yang muncul dari ruang hampa. Semua pasti ada asal usulnya.
  2. Melakukan refleksi diri terutama dengan mengembalikan fitrah kepartaian. Sebab bisa jadi apa yang terjadi merupakan buah dari ketidakpatuhan kita atas khittah dan nilai-nilai yang selama ini digariskan.
  3. Melakukan telaah ulang atas kaderisasi yang belakangan ini dilakukan. Sebab bisa jadi apa yang muncul ini bukan dari kultur yang ingin dikristalisasikan partai, tetapi merupakan virus bawaan kader yang seharusnya dulu, sebelum masuk dan bergabung, alfa untuk dibersihkan.

Jika ketiga hal ini bisa dilakukan, maka tahun 2013 dan 2014, partai ini akan tampil menjadi institusi yang semakin matang, dewasa, dan tentu saja tahan banting menghadapi pertempuran.

Memelihara Warisan Budaya Sejak Dini

Apa yang dilakukan oleh banyak lembaga pendidikan jika hari Kartini tiba? Kebanyakan anak-anak sekolah berdandan (lebih tepatnya didandani) kebaya atau pakaian adat lainnya. Satu hal yang sangat positif, karena di dalamnya terkandung makna yang dalam—yang bukan sekedar menampilkan budaya saja.

Tidak sekedar berbusana daerah

Pada sekolah kelas Play Group dan Taman Kanak-kanak yang kami kelola, proses pengenalan budaya dilakukan justru melalui proses internalisasi pengajaran. Di saat banyak sekolah selevel membawa anak-anak didiknya ke tempat jajanan fast food, kami justru mengajarkan mereka untuk mengenal khazanah budaya makanan tradisional yang sehat seperti kelopon, surabi, kue talang, roda-roda, kue pare, dan sebagainya. Secara luar biasa, anak didik kami menanggapinya dengan sangat antusias. Terlebih lagi orang tuanya. Alasan mereka, “kalau ke tempat itu, kami juga sering”, katanya.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada sekolah lain yang menggunakan metode yang tidak kami lakukan, tetapi sejatinya pendidikan itu harus didasarkan pada sebuah prinsip yang jika meminjam istilah seorang pendidik sejati Paulo Freire: “membebaskan”. Prinsip membebaskan ini dilihat pada upaya-upaya yang dilakukan di institusi tersebut, untuk memberikan kesadaran ekologis si anak didik. Misalnya di sekolah kami, dalam sesi kunjungan ke rumah teman (home visit), bukan hanya di mana rumah dan kamarnya saja yang ditanya, tetapi bahkan si anak didik diminta untuk menerangkan tempat-tempat mereka sembunyi, kabur, atau “jalan tikus”. Hal ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa ruang ekologis mereka sangat luas, apalagi jika mereka sudah besar.

Mengapa pendidikan harus mengajarkan arti dan hakikat yang membebaskan, hal ini didasarkan pada beberapa alasan berikut: Pertama, karena anak didik adalah subyek, bukan obyek. Memosisikan subyek dan obyek dalam pendidikan membawa konsekwensi besar terutama pada system pendidikan, kurikulum, dan metode. Dengan model pendidikan selama ini, di mana guru adalah sentral pengajaran, melahirkan proses transformasi tindakan yang sulit maju.

Berbeda sekali dengan posisi anak didik yang diposisikan sebagai subyek. Jika mereka subyek dari pendidikan, maka mereka diberikan ruang-ruang ekspresi diri dan kemanusiaan mereka secara terbuka, terdialogkan, dan tentu saja membuka ruang dikritisi dan diperbaiki.

Kedua, karena anak didik adalah manusia, bukan robot yang terdiri dari partikularitas mesin. Sebuah mesin bisa dibuat sekehendak si pencipta, atau penguasanya. Sedangkan manusia, sudah dibekali Tuhan seperangkat software dan hardware yang lengkap. Sebagai guru tugasnya adalah melakukan proses aktivtasi saja. Ingat, aktivasi saja, bukan atau malah tidak perlu menginstal program baru. Cukup menemukan program yang ada di dalamnya, kemudian aktivasi agar soft ware itu tidak diam saja sehingga tidak bermanfaat.

Menjadikan cara pandang sebagai manusia ini karena berangkat dari kesadaran kita sendiri, hanya manusialah yang memiliki domain kebudayaan atau berbudaya. Sedangkan kebudayaan sendiri adalah daya, kekuatan, dan kebebasan untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Lalu, bagaimana bisa memosisikan manusia, sedangkan sistem pendidikannya sendiri represif?

Kembali kepada Kekuatan Budaya

Melalui gambaran kecil di atas, maka menjadi sangat terang bahwa misi utama pendidikan sejatinya harus membangun semangat yang memberikan ruang kebebasan utama bagi seluruh stakeholdernya. Dari sini, maka proses akan menjadi enak ketika akhirnya kita harus mengintegrasikan diri secara global.

Identitas budaya yang ditanamkan sejak dini di sekolah bahkan selevel PG-dan TK akan menjadi sebuah investasi masa depan yang bisa menjadi pilihan untuk mencapai kecemerlangan. Dalam konteks demikian, sudah saatnya system pendidikan diarahkan secara focus kepada penciptaan dan kristalisasi semangat kebudayaan dan memelihara budaya kita.

Sebelum menutup tulisan ini, penulis kutipkan sedikit pidato Kepala Sekolah yang kami kelola itu, bahwa di antara tekad untuk memelihara peninggalan nenek moyang, adalah sebagai penanaman semangat patriotism agar budaya itu digengam erat, sebelum dicuri oleh bangsa lain.

Lalu, apakah pendidikan kita selama ini tidak ‘berbudaya’? Mungkin tetap berbudaya juga, namun budaya kapitalisme global yang menjadi segala bentuk aktivitas komunikasi dan sosiologi ummat manusia saat ini, hanya sekadar pajangan. Budaya hanya ditampilkan pada hari Kartini saja, tanpa diserap apa semangatnya. Padahal budaya adalah semangat untuk belajar, tanpa harus toleran pada ruang dan waktu.

 


 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.658 pengikut lainnya.