membelah pagi mengurai langit

Bisakah Sultan Menjadi Pilihan?

Posted by: hermansahtantan on: 8 November 2008

Akhirnya, Raja Jawa yang bernama Bendara Raden Mas (BRM) Herjuno Darpito yang lahir pada tanggal 2 April 1946, itu pun menyatakan siap maju menjadi calon presiden. Sang Raja yang populer dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X ini, akhirnya tidak tahan untuk kembali bertarung memperbutkan kursi presiden yang sejak tahun 2004 diincarnya. Sekedar mengingatkan, bahwa tahun 2003, melalui Partai Golkar Sri Sultan gagal menunjukkan kemampuannya mengikat simpati dari massa anggota konvensi waktu itu.

Hasrat berkuasa memang sudah ada dalam diri setiap orang. Terlebih lagi jika ia juga sudah menikmati kekuasaan. Agaknya, dua periode masa jabatan Gubernur dan juga Raja, belum membuat Sultan Yogya itu puas. Persis seperti sebuah nasihat agung, bahwa banyak manusia tidak puas jika sudah mendapatkan satu lubang emas.
Ketika banyak orang mengapresiasi majunya Sri Sultan ke medan laga perebutan kursi Pilpres, saya justru memandangnya berbeda.
Bagi saya majunya Sri Sultan saat ini, merupakan penanda bahwa ia tidak berbeda dengan politisi lain yang orientasinya adalah kekuasaan. Sultan, entah disadari atau tidak, tergoda oleh empuknya kursi presiden. Jika selama ini, seperti dalam sebuah spanduk yang sering ditayangkan di TV dikatakan (tepatnya ditulis): “Sultanku; Gubernurku”, agaknya ke depan ia ingin menyandingkan “Sultanku; Presidenku”. Sebuah riwayat hidup yang lengkap, manis, dan indah.
Hal lain yang memancing Sultan ikut bertarung karena kesempatan sedang terbuka-terbukanya. Kecemasan sebagian masyarakat akan kehidupan, kecemasan politik akibat ancaman krisis global, krisis kepemimpinan di Partai Golkar, diserapnya sebagai peluang untuk maju. Jika dalam konvensi Golkar ia kalah, hal itu terjad karena pesaing banyak yang berdarah sama: Jawa misalnya.
Sementara saat ini, Wiranto, Prabowo, Akbar sudah tidak ada. Satu-satu saingan berat sesama Golkar adalah JK yang memiliki kelemahan karena ia bukan orang Jawa. Politik paternalistik ini yang dimanfaatkan Sultan dalam mendulang peluang. Apalagi memang electability atau keterpilihan Sri Sultan, sebagaimana banyak Survey, cukup tinggi.
Namun jika memang ia dipilih pada akhirnya akan mencederai proses rasionalitas politik dan bahkan demokrasi sendiri. Sebab banyak yang akan memilih Sultan dikarenakan bukan karena aspek kapasitasnya, namun justru karena ia Raja.
Jujur, saya tidak bisa membayangkan apa jadinya bangsa Indonesia kelak jika sistem kepemimpinannya menggunakan sistem kerajaan kembali. Saya takut, jangan-jangan karena ia Raja yang sekaligus presiden, maka ketika memerintah ia tidak boleh diaudit, , tidak boleh mempertanggungjawabkan kekuasaannya—seperti selama ini di Yogya–, dan tidak boleh turun meski masa pemerintahannya sudah habis.
Maka DPR ke depan bisa tidak menarik. Tidak ada lagi terjadi perdebatan sampai subuh antara pemerintah dengan DPR seperti selama ini, tidak ada lagi pemberantasan korupsi yang bisa merasuki setiap helai jabatan kekuasaan, dan sejumlah hal positif dari proses demokrasi akhirnya hilang.
Fakta awal sudah kita lihat, betapa SBY kelimpungan ketika masa jabatan Sultan yang sudah habis. Sebab di sisi lain SBY mengatakan bahwa atas nama keadilan semua kepala daerah harus dipilih. Bahkan, parahnya lagi warga Yogya kemudian turun ke jalan menolak proses yang terjadi dalam mekanisme demokrasi. Dengan kata lain, untuk satu Yogya saja, Sultan menikmati sekali privasi tidak demokratis warganya. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi se-Indonesia.
Jangan-jangan, jika Sultan terpilih dan lima tahun kemudian saatnya turun, rakyat Jogya kembali turun menolak Rajanya turun tahta. Pilihannya, Sultan menjadi Raja lagi atau memisahkan diri dari Indonesia.
Saya sendiri tidak kawatir jika Sultan maju sebagai calon. Sebab nilai-nilai demokrasi memang membuka peluang kepada tiap orang untuk tampil. Toh yang memilih pasti hanya orang-orang yang romantis, yang berimajinasi Indonesia sebagai kerajaan. Mungkin jumlahnya juga tidak sebanyak masyarakat Yogya saat ini. Hanya saja jika Sultan maju maju, sebaiknya membuka diri seluas-luasnya pada nilai-nilai politik dan demokrasi.
Maka, masihkah kita memilih Sultan?

Tinggalkan Balasan