Jika melihat koridornya, China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA) jelas tidak mungkin ditolak. Perjanjian yang diberlakukan efektif sejak 01 Januari tahun 2010 ini sesungguhnya sudah dibicarakan, dirumuskan, dan disepakati sejak lama. Bahkan jika melihat beberapa kajian ilmiah yang mengerangkainya, (contoh: Sheng Lijun, 2003) perjanjian ini antara lain didorong karena hubungan baik antara China dengan ASEAN sejak sebelum tahun 90-an. Sejak itu, China terus melakukan kajian, perbincangan dan lobi agar bisa masuk ke ASEAN. Hasilnya pada tahun 2001, dalam sebuah forum Negara-negara Asean di Thailand, China mempresentasikan kehendaknya pada forum tersebut yang akhirnya melahirkan kesepakatan CAFTA ini.

Berbeda dengan China yang sangat serius menyambut peristiwa ini, kita justru lupa bahwa sesungguhnya perjanjian tersebut terus berjalan. Hiruk-pikuk politik dalam negeri seperti Otonomi Daerah (c.q. desentralisasi), kemudian pilpres, dll., seakan melebur ingatan para pemimpin negeri ini bahwa ada naga yang tengah menunggu pintu halaman dibuka.

Maka tidak mengherankan ketika akhirnya, seiring dengan berjalannya waktu, pintu tersebut dibuka, kita seperti terkaget-kaget. Betapa tidak, di tengah ‘kegagahan’ aktor politik kita di DPR, Naga itu kini hadir menyerbu, merangsek terus kehidupan sosial-ekonomi kita.

Tanpa mengabaikan upaya politik yang tengah ditempuh para politisi, namun hendaknya kita jangan kehilangan substansi dari perjanjian tersebut. Sebelum berlangsung lebih jauh, ada baiknya kita kembali menengok kepada diri kita sendiri, agar kita mampu menyiapkan amunisi untuk menghadapi era ini.

Pertama-tama hal yang harus kita pahami adalah bahwa FTA hanya sebagian dari agenda besar yang sifatnya global, yang kelak—jika pendekatan linier kita pakai—akan diikuti oleh beberapa agenda lain seperti Customs Union (CU), Common Market (CM), Economic Union (EU), dan Political Union (PU) (Achsani: 2004; 2010). Masing-masing fase tersebut memiliki kekuatan dan agendanya sendiri-sendiri, yang intinya siap atau tidak, kita harus menghadapinya.

Dalam konteks demikian, bagaimana dengan posisi perguruan tinggi dan stakeholdersnya menghadapi fakta ini?

Inilah yang menjadi ironi. Sejatinya PT harus menjadi garda depan yang paling memahami gejala sosio-politik-ekonomi kebudayaan pasca ditandatanganinya kesepakatan ini. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Banyak PT adem ayem saja seakan-akan hal ini bukan masalah besar.

Jika kita memetakan masalah pasca CAFTA ini disepakati, dalam konteks pendidikan tinggi, ada beberapa hal yang perlu dicermati secara kritis, antara lain: Pertama, aspek sumberdaya manusia. Pada aras ini, kita menyadari bahwa tingkat kompetitif alumni PT saat ini kebanyakan masih di bawah rata-rata kebutuhan di lapangan. Artinya, banyak PT yang tidak ngeh dengan kebutuhan masa depan ini. Sederhananya, pasca CAFTA ini PT di Indonesia harus menyambutnya (sejak 5 tahun lalu) dengan membuka studi-studi China. Hal ini penting untuk memberikan pengetahuan yang mendalam mengenai China kepada pelaku usaha dan masyarakat. Sebab tidak mungkin kita bisa bertarung dengan baik jika kita tidak memahami kapasitas lawan kita.

Kedua, aspek perlindungan pada kapasitas-kapasitas local yang masih menjadi tempat bergantung masyarakat banyak. Artinya, aspek-aspek sistem produksi masyarakat luas harus menjadi perhatian masyarakat. Misalnya dunia pertanian dan para petaninya. Dalam konteks ini pemerintah dituntut harus lebih cerdas agar bisa mengatasi dilema antara memenuhi tuntutan umum yang terkait dengan rakyat, atau memenuhi kesepakatan global.

PT Menjadi Terdepan

Peluang atau tantangan, sejatinya memang membuat kita terlecut untuk semakin responsif, maju, dan cerdas. CAFTA telah—mau tidak mau—menuntut kita semakin arif tetapi sekaligus cerdas. Dengan hadirnya kesepakatan Perdagangan Bebas China Asean ini, PT menjadi arena untuk mendulang banyak manfaat, seperti menciptakan peluang-peluang baru yang bisa menaikkan kesejahteraan rakyat. Jadi, PT jangan justru asyik dengan dunianya sendiri, tanpa pernah membuka mata untuk menjadi ‘penjawab’ persoalan dan tantangan jaman.[]

Sumber gambar: http://en.kunming.cn/index/content/2010-01/07/content_2063235.htm


 

About these ads