Bagi lawan politiknya, apa yang menerpa demokrat saat ini bisa jadi merupakan keuntungan tersendiri. Terlebih, terhitung sejak tahun 2011 ini, semua partai yang menjadi kontestan Pemilu 2012 harus mampu memikat konstituen agar bisa mendapatkan kekuasaan.

Akan tetapi, bagi penulis, badai politik yang tengah merundung Demokrat ini justru merupakan keharusan. Bahkan ia muncul sudah menjadi kebutuhan politik sebuah partai untuk menunjukkan kekuatan ontologisnya di tengah pasar politik yang semakin ramai ini.

Mengapa? Hal ini didasarkan kepada beberapa alasan berikut: pertama, PD adalah partai yang tumbuh dari nol dan melakukan lompatan luar biasa secara politik. Maka wajar, ibarat buah hasil okulasi, genus PD tidak langsung menyentuh bumi. Ada sosok figur yang menjadi pohon utama sehingga partai ini eksis di belantara jagad politik Indonesia.

Kedua, PD tumbuh dan membesar yang terlalu cepat itu, menyebabkan dirinya seperti madu yang memancing banyak pihak untuk bergabung membesarkannya. Namun di dalam tubuhnya sendiri, sistem imunitas yang mampu menyaring virus masuk belum terbangun sepenuhnya.

Ketiga, PD adalah partai yang lahir sebagai antitesis dari partai yang sudah ada sebelum dan bahkan sesudahnya–setidaknya sampai saat ini. PD tidak seperti PKS, PKB, atau PAN yang mengandalkan basis tradisional. Sehingga ia bisa diisi, dimasuki, dan dimiliki oleh siapa saja. PD juga tidak seperti PPP, Golkar atau PDIP yang sudah memiliki karakter tersendiri dalam kultur politik di Indonesia.

Dengan segala kelebihannya tersebut, agar partai ini bisa terus eksis dan tidak lagi mengandalkan pokok batang utama sebagai sandaran, partai ini harus diuji. Jadi badai yang saat ini sedang mendera seluruh organ partai adalah proses untuk menjadi pohon besar dengan jati diri yang penuh keutamaan.

Hanya ujian yang mampu menjadikan seseorang, terlebih institusi seperti partai, yang bisa membuat mereka mengakar, membesar dan berarti. Ujian harus dijadikan momentum menemukan titik keseimbangan baru bagi seluruh urat nadi organisasi ini. Mungkin cara yang sederhana bagaimana melaluinya adalah dengan kembali ke fitrah partai, yakni Partai Demokrat.[]

Ujian dan Kedewasaan Politik

 

Ibarat sebuah pepatah. Tidak ada ujian, ya tidak naik kelas! Begitu saya memaknai apa yang tengah terjadi pada Partai Demokrat ini. Justru saya akan cemas sekali jika partai yang pertumbuhannya sangat cepat ini tidak didera badai ujian. Mengapa? Seperti pepatah tadi, tidak ada ujian, berarti tidak bisa naik kelas! Jika tidak naik kelas, maka berarti partai ini bisa dikatakan gagal.

Pentingnya ujian politk bagi PD, demikian Partai ini disingkat, bisa dilihat pada beberapa perspektif: Pertama, PD merupakan partai paling menggoda beberapa tahun belakangan ini. Sejumlah tokoh masyarakat, aademisi, aktivis, dll. bergabung menjadi kader. Sehingga berbondong-bondongnya kader baru ini menyebabkan partai mengalami obesitas karena tidak seimbangnya antara tinggi dan lebarnya tubuh partai.

Kedua, PD belum memiliki sistem kekebalan tubuh permanen yang bisa menyaring virus dan bakteri yang masuk. Alhasil tidak semua kader yang masuk adalah kader yang baik. Bisa jadi beberapa adalah virus jahat.

Ketiga, jika tidak diuji, maka tidak akan muncul loyalitas kader tersebut. Bahkan bisa jadi yang muncul adalah kepongahan karena berbagai keajaiban yang selama ini didapatkannya.

Keempat, selama ini kontribusi seorang figur demikian dominan dalam sistem internal PD. Padahal mendewakan figur adalah bunuh diri yang secara historis telah terbukti. Dengan ujian ini, maka seluruh kader bisa belajar bersama bahwa mengandalkan seseorang itu dalam sebuah lembaga besar merupakan sebuah ketidakpatutan berorganisasi.

***

Jadi saya yakin bahwa badai pasti berlalu dari Partai Demokrat selama partai ini dalam menghadapi badai yang kini tengah mendera itu, mengambil langkah-langkah berikut:

  1. Melakukan evaluasi kritis atas kultur yang terjadi dalam manajemen kepartaian selama ini. Dengan melakukan evaluasi ini maka bisa ditelusuri apa yang menjadi akar masalahnya. Sebab tidak ada masalah yang muncul dari ruang hampa. Semua pasti ada asal usulnya.
  2. Melakukan refleksi diri terutama dengan mengembalikan fitrah kepartaian. Sebab bisa jadi apa yang terjadi merupakan buah dari ketidakpatuhan kita atas khittah dan nilai-nilai yang selama ini digariskan.
  3. Melakukan telaah ulang atas kaderisasi yang belakangan ini dilakukan. Sebab bisa jadi apa yang muncul ini bukan dari kultur yang ingin dikristalisasikan partai, tetapi merupakan virus bawaan kader yang seharusnya dulu, sebelum masuk dan bergabung, alfa untuk dibersihkan.

Jika ketiga hal ini bisa dilakukan, maka tahun 2013 dan 2014, partai ini akan tampil menjadi institusi yang semakin matang, dewasa, dan tentu saja tahan banting menghadapi pertempuran.