(tribunnews.com)

Rasanya memang benar ada yang tidak beres dengan anggota DPR kita ini.

Tempo hari bilang gedung DPR tempat mereka kerja miring 7 derajat, oleh karena itu harus dibangun gedung yang baru dengan biaya sampai Rp 1,6 triliun. Tetapi ternyata gedung tersebut terbukti tidak miring. Jadi, kemungkinan besar otak merekalah yang miring.

Kemudian mengalokasi dana sebesar Rp 4 miliar hanya untuk membeli mesin absensi sidik jari. Dengan alasan supaya anggota DPR itu bisa lebih disiplin dan lebih rajin ikut rapat. Padahal mereka itu ‘kan bukan sekumpulan balita yang untuk disiplin saja harus dipaksa dengan sebuah mesin.  Apalagi dengan harga sampai Rp 4 miliar itu.

Sekarang ini, mungkin karena belum juga diobati, tingkat ketidakberesan otak mereka menjadi semakin parah, dengan dalam tempo relatif singkat mengadakan tiga renovasi sekaligus dalam waktu yang berdekatan.

Pertama, renovasi toilet di gedung DPR dengan biaya Rp 2 miliar. Meskipun yang direnovasi jumlah totalnya ada 200-an toilet, tetapi menurut pengamatan wartawan, sebagian besar darinya masih berfungsi baik. Alias sebenarnya tidak perlu direnovasi. Kalau pun semuanya harus direnovasi, berarti untuk setiap toilet biaya renovasinya saja bisa mencapai Rp 10 juta?!

Dengan demikian, apa yang dibuang di toilet itu, bisa menjadi kalah busuk dengan pemikiran merenovasi toilet saja dengan biaya sekian besar itu.

Kedua, renovasi tempat parkir motor dengan biaya sebesar Rp 3 miliar. Diperkirakan akan menjadi tempat parkir motor termahal di dunia.

Ketiga, merupakan tingkat tertinggi untuk saat ini ketidakwarasan itu, yakni  renovasi ruang rapat Badan Anggaran (Banggar) DPR yang luasnya sekitar 10 m x 10 m, dengan biaya sebesar  Rp 20 miliar, tepatnya Rp. 20.370.893.000.

Kenapa bisa semahal itu?

Antara lain karena, kursi-kursi saja diimpor dari Jerman. Kursi dengan desain utama berwarna putih itu didesain oleh Vitra Company, sebuah perusahaan desain perabot terkemuka dari Jerman.
Pintu ruang rapatnya diganti dengan kayu jati tebal dan kedap suara. Mungkin maksudnya supaya kalau sedang rapat jual-beli anggarannya bisa lebih terjamin kerahasiaannya. Mengingat, terjadinya beberapa kebocoran yang terjadi akhir-akhir ini. Sampai-sampai membuat mereka harus adu urat dengan KPK.

Semua(rencana) pembangunan dan renovasi dengan anggaran yang sedemikian besar itu tidak perlu sampai terjadi, apabila renovasi yang dilakukan itu benar-benar tepat sasaran. Yakni, seharusnya yang direnovasi itu adalah justru manusia-manusianya. Bukan gedungnya, bukan toiletnya, bukan tempat parkirnya, dan bukan pula ruang rapat Banggar-nya.

Sebab manusia-manusia yang kerap disebut sebagai “anggota dewan yang terhormat” itu banyak yang kalau bukan tingkat kewarasannya diragukan, maka besar kemungkinan adalah segerombolan garong yang sedang menyamar sebagai anggota dewan.

Dengan biaya renovasi toiletnya saja sampai Rp 2 miliar, renovasi tempat parkir motor saja Rp 3 miliar, dan renovasi ruang rapat Banggar sebesar Rp 20 miliar, — kursinya saja didisain dan diimpor khusus dari Jerman –, apakah kita bisa bayangkan, seandainya “mobnas” Kiat Esemka benar-benar jadi diproduksi massal setelah lolos berbagai syarat, para anggota DPR itu mau mengganti mobil dinasnya itu dengan Kiat Esemka yang konon harganya bisa di bawah Rp 100 juta itu? ***

Referensi:
http://berita.liputan6.com/read/370594/renovasi-toilet-dpr-habiskan-miliaran-rupiah
http://politik.vivanews.com/news/read/277229-dana-rp3-m-untuk-renovasi-parkir-motor-dpr
http://www.tribunnews.com/2012/01/12/melongok-renovasi-ruang-banggar-pintu-jati-yang-kedap-suara

Tulisan diambil dari:

http://politik.kompasiana.com/2012/01/14/rasanya-memang-ada-yang-tidak-beres-dengan-anggota-dpr-kita/

Komentar saya (menambahi).

Semoga Anggota DPR pembohong itu BURUT!