Judul di atas bukan tentang tahun 2009. Justru ini membicarakan masa depan Indonesia setelah 2014. Indonesia after SBY era, sangat penting untuk kita diskusikan. Sebab pada saat itu, tokoh-tokoh politisi gaek akan makin kehilangan suaranya. Pemerintahan pun sudah saatnya diambil alih oleh kaum muda.

sby saat berdiskusi di bogor tahun 2003

sby saat berdiskusi di bogor tahun 2003

Mengapa tidak tahun 2009?

Tahun 2009–yang oleh SBY disebut sebagai tahun politik—adalah tahun yang justru sangat menentukan pada lima tahun berikutnya. Pondasi-pondasi ekonomi, politik, birokrasi, dan ketatanegaraan yang saat ini tengah dibenahi, jelas memerlukan tanggapan untuk 2014 nanti. Sehingga tidaklah salah jika kita, kaum muda, harus segera mempersiapkan diri pada saat itu.

Indonesia after SBY dipastikan akan minus dari kiprah politisi gaek seperti Mega, SBY, Wiranto, Amin Rais, Sri Sultan, Yusuf Kalla, Gus Dur, Akbar Tanjung, dan sebagainya. Mereka ini secara usia politik sudah makin udzur. Selain itu progresifitasnya pasti makin menurun. Paling-paling mereka tetap ditempatkan secara terhormat di bagian penasehat dan pembina.

Untuk itu, jika saat ini rakyat masih mempercayai, sebagaimana survey-survey yang ada, SBY sebagai presiden—bahkan untuk tahun 2009-2014—saya bisa memahaminya. Hal ini disandarkan pada harapan bahwa kelak, yakni tahun 2014 akan muncul kaum muda baru yang bukan dia lagi-dia lagi. Rakyat menilai SBY menjadi yang paling baik saat ini karena secara obyektif dialah yang saat ini paling bisa dinilai. Berbeda sekali dengan kandidat lain, yang kerja nyatanya belum ada.

Selain itu rakyat juga melihat dan menyadari jika tahun depan SBY tidak dijadikan Presiden kembali, syahwat kekuasaan akan kembali menggedor dirinya untuk bertarung kembali pada tahun 2014. Jika ini terjadi, maka peluang kaum muda tampil dipastikan menipis atau malah lewat sama sekali.

Belajar dari partai

Kita bisa melihat fenomena ini pada partai yang sudah meraih kekuasaan. PDIP dengan Megawati, begitu dikalahkan SBY pada tahun 2004, akan kembali bertarung pada tahun 2009 besok. Otomatis hal ini menutup peluang kaum muda untuk tampil dan maju—bahkan dalam lingkungan internalnya sendiri. Sehebat-hebatnya Pramono Anung misalnya, pasti tidak akan mau menjadi calon presiden dari PDIP, selama ada Megawati di sana.

Partai lain yang serupa tapi tak sama adalah PKB. Saat ini, PKB kehilangan matra kader yang bisa ditampilkan untuk menjadi (bahkan sekedar) kandidat RI 1 untuk 2009. Sebab secara internal, aktor politik Gus Dur sudah menyerap seluruh energi kreatif organisasi ini. Bahkan untuk sekedar berbisik-bisik saja, PKB hampir sudah hilang keberanian.

Tak berbeda dengan PDIP dan PKB, PAN juga pada akhirnya kehilangan elan untuk membangun wacana kaum muda. Setelah jauh-jauh hari Sutrisno Bahir tampil kamuflatif di layar kaca dengan menggelontorkan biaya iklan yang maha besar demi sebuah popularitas, semangat ini sepertinya menciut ketika Amin Rais diisukan ingin kembali manggung. Tentu saja, SB (demikian ketua PAN ini dikenalkan) tidak akan berani berbuat lebih jauh ketika AR mau tampil (kembali) sebab walau bagaimanapun SB ‘berhutang budi’ besar kepada AR.

cag…