Pertanyaan untuk para Jurnalis: Produk Jurnalistik dengan Kamera Tersembunyi

by tantan hermansah

Rate This

Saat ini, dengan kecanggihan teknologi, menyadap, mengambil gambar diam-diam, dan sebagainya bisa dilakukan tidak hanya oleh aparat seperti KPK. Salah satunya adalah para jurnalis.

Untuk mengetahuinya, saya mengajukan kepada rekan-rekan milis yang anggotanya banyak sekali jurnalis. Berikut pertanyaannya:

“Bung FG, Kang Ging, atau Mas Ade, juga Bu Sirikit, Satria, Item, dan semuanya,
Saya ada pertanyaan. Mohon maaf jika pernah dibahas. Tapi ini betul2 ingin tahu.
Dalam sebuah tayangan (sebagai contoh kasus), TV1 menggunakan kamera tersembunyi untuk meliput pernyataan/ amanat dari Imam Samudra.
Pertanyaan saya, apakah hasil kamera tersembunyi boleh dipublikasikan ke khalayak, atau apakah hal itu masih bisa disebut sebagai kategori produk jurnalistik?
Apalagi jika, misalnya, keluarga tidak menghendaki adanya pengambilan gambar. Jika jawabannya boleh. Wah, menurut saya mengerikan sekali, sebab atas nama jurnalisme dan kebebasan pers, tidak ada lagi hak privasi bagi seseorang.”

Pertanyaan di atas memang muncul ketika melihat TV1 menayangkan amanat Imam Samudra yang dibacakan di hadapan keluarganya.

Kepada para jurnalis, saya mohon pencerahannya.
Salam

Tantan

Pertanyaan yang bagus mas tantan. Sering ditanyakan mahasiswa di kelas saya:).
Silakan mas tantan baca semua kode etik jurnalistik, termasuk IJTI dan P3-SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran), yaitu kode perilakunya para broadcaster.
Semua jenis kode etik itu tidak mengizinkan penyamaran dan kamera/microphone tersembunyi, KECUALI:

a. Bila tanpa kamera/mic tersembunyi, liputan tak berhasil didapat
b. (Padahal) Liputan itu begitu pentingnya bagi publik, sehingga tidak boleh tidak berhasil
c. Kalau diliput teran-terangan nyawa peliput bisa terancam alias membahayakan
d. (Toh) Mic/kamera tersembunyi tak boleh digunakan di wilayah privat
e. (khusus untuk program reality show): Liputan dengan kamera/mic tersembunyi hanya bisa/boleh ditayangkan atas ijin yang gambarnya terdapat di rekaman itu.

Berat juga syarat-syaratnya. Kalau saya nongkrong di Dolly hanya untuk ngecek apakah Ging (misalnya lo ini) rajin ke situ, ini tidak valid. Untuk apa? Apa pentingnya bagi publik? Kalau saya pasang mic di bawah ranjang SBY lalu terdengar suara-suara yang bukan suara Bu Ani, juga gak valid, karena ini ruang privat. Kalau mau nangkap Tomy Winata konspirasi sama Sutiyoso ya pasang aja mic tersembunyi di bawah meja di restoran langganan mereka, tepat di meja yang jadi tempat favorit mereka. Ini ruang publik. Rekamannya boleh digunakan.

Mahasiswa saya juga bertanya: “Kalau rekaman tersembunyi minta ijin dulu sebelum ditayangkan, gak mungkin dong Buuu …”
Mungkin saja, dan ini sudah dikupas tuntas di milis naratamatv (milisnya para broadcaster). Begini: produser akan ambil gambar secara tersembunyi karena itu lebih lively (hanya kalau terpaksa mereka men-skenario-kan).
Setelah jadi, yang bersangkutan akan diberitahu. Kemungkinannya: a) orang itu marah, menolak. Produser batal menayangkan. Rugi produksi. Kalau produser nekad, risiko tanggung sendiri: bisa digugat (ada pasalnya di P3-SPS kalau gak salah). Jadi, jumlah produksi lebih banyak dari jumlah yang ditayangkan, karena ada kemungkinan gagal tayang. kemungkinan b) orang itu akhirnya mau juga, dengan kompensasi. Dibayar.

Fenomena yang kedua ini (yang jadi obyek malah mau karena dibayar) menjadi berkembang. Posisi terburuk: beberapa orang menjadikannya profesi. Menjadi obyek reality show, seperti main drama aja. Ini sudah ketahuan banyak pemirsa cerdas, yang melihat wajah yang sama di banyak tragedi reality show:(.

Kita harus membedakan mana karya jurnalisme dan mana reality show. Kasus Imam Samudra dkk-nya jelas bukan reality show. Peliput harus patuh pada kode etik dan hukum. P3-SPS mensyaratkan persetujuan obyek berita (terpidana, pelaku kejahatan, korban, dll) sebelum diambil gambarnya.

Pertanyaan mas tantan sangat valid dan signifikan. KALAU SEMUA WARTAWAN BOLEH MENYAMAR DAN BOLEH BAWA KAMERA TERSEMBUNYI DI SEMUA KESEMPATAN, APA JADINYA DUNIA INI?

Saya membayangkan orang yang duduk di sebelah saya di pesawat ternyata wartawan. Padahal saya cerita tentang bos saya. Saya bisa hilang pekerjaan bila besok cerita itu jadi HL di surat kabar, atau disiarkan di radio lokal. Anda juga bisa bercerai gara-gara curhat/bercanda dengan seseorang di pub tentang istri, eh ternyata dia wartawan. Sekretaris di kantor kita, tamu di organisasi kita, orang lewat di depan restoran kita, eh …. semua ternyata wartawan. Bisa dibayangkan betapa chaosnya dunia ini?

Itulah perlunya kode etik dan penegakannya.

Demikian, semoga bermanfaat.

sirikit syah