Beberapa bulan belakangan, di layar TV kita disuguhi iklan-iklan politik. Mereka yang merasa tokoh, dan tentu juga punya duit, sengaja menampilkan diri di layar TV untuk menjaring popularitas. Milyaran rupiah digelontorkan demi menyaingi “luna maya”. Maka banyak slogan berhamburan, yang lama-lama membuat saya “enek”.

Beruntung krisis global menghentikan kegenitan para tokoh tersebut. Sebab katanya, kebanyakan dana yang dipergunakan oleh para calon “pesohor politik” tersebut, merupakan dana panas yang dimainkan di lantai bursa. Jadi, dengan kata lain dana-dana yang mereka pergunakan hasil “goreng menggoreng” saham. Di mana keuntungan riil yang diperoleh, merupakan hasil dari kegagalan orang lain.

Penjelasan singkatnya begini. Jika ada orang untung, berarti ada orang rugi. Sebab lantai bursa bukan tempat pembuatan uang. Tidak ada uang keuntungan yang keluar dari mesin cetak. Maka agar seseorang mendapatkan keuntungan, jelas akan ada pihak yang mengalami kerugian. Nah, siapakah mereka? Ternyata adalah investor-investor kecil yang mencoba peruntungan di lantai bursa. Banyak dari investor tersebut dijaring melalui rayuan telpon, bahkan didatangi langsung ke tempat kerja.

Mereka mengumpulkan uang dari para investor untuk “dimainkan” agar mendapat keuntungan. Hasilnya, menurut sebuah investigasi TV, lebih banyak yang hancur/ rugi ketimbang yang untung. Apalagi para investor ini tidak terlalu paham apa yang dilakukan para pialang tersebut. Bahkan katanya ada target, 3 hari duit investor tersebut harus ‘bablas’.

Kembali ke para calon presiden yang saat ini iklannya makin menyurut, pada akhirnya dituntut menggunakan cara-cara konvensional. Memang dari sisi efektifitas, bisa jadi “serangan udara”—jika meminjam istilah konsultan politik Ipang Wahid—itu benar-benar mampu mempengaruhi calon konstituen. Namun dari sisi dana, duit yang akhirnya hanya menguntungkan para pemilik media TV tersebut, sangatlah besar. Sebagai contoh, SB—yang iklannya “hidup adalah perbuatan”—menghabiskan sekitar 40 milyar selama sebulan untuk mengiklankan dirinya. Rizal Malarangeng, staf khusus menko kesra ini dan direktur Freedom Institute, entah sudah mengeluarkan berapa untuk tampil dan saat ini berhenti.
Tetapi saat ini, banyak para pengiklan itu berhenti. Entah apa. Toh mungkin mereka tidak rugi ini. Sebab yang dipergunakan adalah duit hasil dari ‘membuat rugi’ orang lain. Bukan duit dirinya langsung.