Menyongsong 2014
Dalam situasi politik kepartaian yang oligharkis dan paternalistik seperti yang saat ini banyak kita jumpai, maka mempertaruhkan politik tahun 2014 bisa dalam genggaman kaum muda misalnya, masih dirasakan terlalu berat. Karena itu, jika tidak segera berbenah, bukan mustahil partai-partai besar yang saat ini sedang menikmati kekuasaan akan segera dilibas oleh partai-partai baru yang saat ini sedang merangkak atau merangseg kekuasaan.

Melihat hal seperti ini, maka keinginan dari Tokoh PDIP Taufik Kemas (TK) untuk melakukan koalisi permanen dan jangka panjang bisa dipahami. PDIP, sebagai partai yang mengusung hal-hal abstrak seperti nasionalisme, jelas sedang mengalami ‘keberatan’ beban. Antara beban politik sebagai ikon keruntuhan rejim Orde Baru sekaligus penjaga gawang nasionalisme, dengan keinginan tetap berkubang pada kekuasaan.
Sejatinya kehendak TK tersebut menjadi bahan pemikiran mendalam bagi pelaku politik yang memiliki visi masa depan. Namun demikian apa yang disampaikan oleh TK akan menghadapi tantangan besar, bahkan di lingkungan internal PDIP sendiri. Paternalisme politik yang ada dalam kultur partai ini bisa-bisa menghempaskan gagasan besar dari TK.
Koalisi permanen jangka panjang memberikan angin segar bagi khazanah perpolitikan kita dengan mendasarkan diri pada beberapa fakta berikut: Pertama, koalisi (tidak) strategis seperti yang dilakukan oleh SBY-JK saat ini sangatlah rawan. Pemerintah SBY-JK menghadapi beban berat ketika mitra koalisinya sangat pragmatis. Hal ini terjadi karena koalisi dilakukan pada menit-menit terakhir pengumuman kemenangan. Akan berbeda jika komitmen koalisi sudah dilakukan jauh-jauh hari. Termasuk dalam kerja-kerja koalisi ini adalah strategi memenangkan pemilu, perjuangan di parlemen dan sebagainya.
Kedua, jika koalisi dilakukan permanen dan jangka panjang, maka setiap orde pemerintahan bisa merumuskan program pemerintahan dan pembangunannya lebih dini, termasuk visi jangka pendek dan panjangnya. Dengan demikian maka rakyat akan mengetahui arti strategis dari koalisi dan dampak sosial-ekonominya bagi mereka.

————bersambung lagi———-