Atas undangan sebuah lembaga, selama seminggu pada bulan Juli ini saya mengikuti pelatihan yang diberi judul sebagai ”Observation Study Tour…”. Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk mengenalkan satu moda baru dalam pemberdayaan masyarakat di mana menjadikan masjid sebagai subyek utama pemberdayaan masyarakat. Cita-cita utamanya adalah melakukan transformasi sosial, budaya, ekonomi, dll. dengan membasiskan pada nilai-nilai agama dan masjid sebagai wadahnya, dengan goal perubahan sosial di masyarakat—minimal sekitar masjid.

mengikuti acara international study tour

mengikuti acara international study tour



Hal ini diwujudkan dengan benar-benar menjadikan masjid sebagai sentral, misalnya untuk memelihara kualitas generasi mendatang dilakukan program peningkatan gizi balita dan ibu hamil. Sedangkan untuk masyarakat luasnya, dilakukan pemberdayaan ekonomi dan sosial melalui pengembangan unit-unit usaha sesuai dengan potensinya. Tidak ketinggalan, agar sustainabilitas program terjaga tim inti juga merangkul kaum kaya di sekitar masjid untuk lebih memberikan perhatian kepada kaum yang kurang beruntung ini.

***

Sebenarnya dengan menjadikan masjid sebagai bukan hanya untuk kegiatan ritual, bukanlah hal baru. Justru sejak awal, yakni ketika masjid pada jaman nabi setidaknya memiliki sepuluh fungsi (Shihab dalam Agus 2007), yakni: (1) Ritual site (kegiatan ritual); (2) Pendidikan; (3) Kepedulian sosial (Social charity); (4) Menahan tawanan; (5) Menolong korban perang; (6) Ruang penerima tamu; (7) Penyelesaian sengketa; (8) Pusat Informasi Keislaman; (9) Training ketentaraan atau bela negara; dan (10) Tempat komunikasi dan konsultasi ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat.

Meski tentu saja fungsi masjid lebih dari itu, tapi satu hal yang patut dicatat adalah bahwa masjid sejak awal memvisualkan dimensi Islam yang utuh, satu, genuine, dan cerdas. Mengapa? Karena Rasulullah sebagai peletak dasar pertama masjid memang membangunnya tidak semata-mata fisik. “Dijadikan seluruh bumi ini sebagai tempat manusia bersujud (masjid)!”, kata Rasulullah. Term ‘bumi’ (ărd) yang disebutkan oleh Rasulullah sungguh tepat. Dengan demikian, sejatinya masjid bukan semata bangunannya, namun lebih jauh adalah kegiatan sebagaimana halnya manusia melakukan aktivitas sosial, budaya, ekonomi, dan ritualnya di sana.

Dalam masjid, bersatu berbagai fungsi-fungsi kehidupan sebagaimana sepuluh dimensi yang sudah disebutkan di atas. Inilah sesungguhnya inti dari apa yang saat ini kembali didengungkan sebagai kesalehan sosial (piety).

Jika mengacu kepada fakta di atas, sangat nyata bahwa baik sebagai konsep atau praktik, kesalehan sosial bukanlah hal baru dalam Islam. Islam sebagai ajaran dan anjuran sudah terlebih lama mempraktikkan kesalehan sosial ini. Bahkan jika kita mencoba menelaah porsi atau presentase doktrin yang menjelaskan antara kesalehan ritual dengan kesalehan sosial, sudah pasti lebih banyak yang kedua.

Kesalehan Sosial dan Tumbuhnya Peradaban Islam
Menjadi sangat nyata, bahwa Islam tidak akan hidup, tumbuh, dan berkembang jika hanya mengedepankan kesalehan ritual semata. Penyair besar sekaligus intelektual Islam Mohammad Iqbal pernah mengatakan bahwa seandainya Islam hanya dipenuhi oleh perilaku-perilaku para mistikus saja, maka dunia ini tidak akan sebesar dan seindah ini. Kata-kata itu menegaskan bahwa kesalehan sosial dan kesalehan ritual seperti dua sisi mata uang yang keduanya saling memberi makna, saling melengkapi, dan saling memberikan nilai. Dengan kata lain, tidak akan bermakna ibadah seseorang jika tidak diikuti dan dilengkapi oleh perilaku dan tindakan sosial yang di dalamnya selalu menebar, mendorong, dan menciptakan kebaikan sosial, serta sebaliknya. Sehingga al Qur’an tegas sekali menjelaskan bahwa salah satu indikator keberhasilan shalat seseorang adalah ketika si pelaku bisa melakukan tindakan pencegahan keburukan dan kemungkaran.

Jika semua ummat Islam di dunia—minimal di Indonesia—sudah memahami dimensi Islam seperti ini, maka kejayaan peradaban Islam bisa kembali bangkit menebarkan “rahmatan lil alamin”nya. Alasannya adalah sebagai berikut: Pertama, Islam adalah ajaran yang mengedepankan nilai-nilai kebaikan universal seperti penghargaan terhadap hak asasi manusia, mendorong perdamaian, membangun kepedulian sosial terlebih kepada kaum miskin dan papa, menghargai perbedaan dan keragaman, dan sebagainya yang juga nilai-nilai kebaikan itu diakui oleh semua agama yang ada di dunia ini. Sehingga ketika pemahaman seperti ini menginternalisasi pada seluruh kelompok kesatuan ummat beragama, ia akan saling mengisi dan secara akan mengkonstruksi peradaban. Spirit ini juga menjelaskan dengan tegas bahwa peradaban yang akan dibangun dan dikonstruksi Islam bukan peradaban sendirian, namun justru merupakan puncak peradaban kemanusiaan itu sendiri. Fakta seperti ini dalam sejarah Islam bisa dilihat pada masa kejayaan Islam di Cordova, di mana Ummat Islam, Yahudi dan Nashrani bersama-sama membangun keyaan kemanusiaan selama berabad-abad.

Kedua, sejak awal ditegaskan ketika masjid sebagai pusat kegiatan, aktivitas, dan bahkan penunjang kesejahteraan ummat, maka sesungguhnya apa yang terjadi adalah mengembalikan khittah dan sifat fitriah masjid. Dan sifat fitri adalah hakikat, inti dan sumbu kehidupan sosial. Dalam kehidupan nyata, sikap ini kemudian dimunculkan dalam bentuk kepedulian, kedermawanan, dan toleransi, serta tetap bercita-cita untuk membangun keselarasan dengan kehendak Tuhan dan alam.

Ketiga, saat ini, diakui atau tidak kita sedang mengalami masa di masjid mulai kembali difungsikan tidak hanya untuk fungsi ritual namun sudah lebih dari itu. Genuitas masjid seperti ini tentu perlu kita sambut dengan gembira mengingat gejala sosiologis ini berarti mengembalikan Islam ke sumber otentiknya. Tidak hanya masjid-masjid yang dikelola oleh kampus dan atau kawasan perkotaan atau pesantren-pesantren, kesemarakan masjid ini juga sudah mulai mewabah di desa-desa, atau di kawasan-kawasan yang secara sosial-ekonomi merupakan kelas bawah.

Saya merasa bahwa inilah bentuk Islam yang fitri, yang cerdas, penuh kedamaian, dan indah. Hal yang sama ternyata juga dirasakan oleh kawan-kawan sesama peserta yang datang dari luar negeri, yakni dari China, Pakistan, dan Iran.

Pertanyaan lanjutannya adalah, bagaimana mengelaborasi masjid agar bisa menjadi salah satu moda gerakan sosial di Indonesia. Hal ini penting agar momentum yang tengah menggejala ini tidak menjadi liar tidak terkendali sehingga ghirah (semangat) masjid bisa dijadikan sebagai pusat segala pusat aktivitas kehidupan ummatnya.

Pertama, perlu dibangun satu jalinan komunikasi yang lebih intensif lagi antara masjid baik secara kelembagaan maupun personal. Selama ini, banyak masjid sukses sendiri, sementara masjid lain malah ‘kering’. Komunikasi lain bisa dibangun antar level. Misalnya masjid kota menjadi ‘pembina’ masjid-masjid di desa. Contoh kongkrit adalah yang kami lakukan di Masjid At Taqwa Bintaro yang menjadi ‘pembina’ bagi masjid-masjid di beberapa tempat antara lain di dekat kawasan Bintaro sendiri, dan bahkan menjadi sponsor utama pendirian klinik kesehatan masyarakat di Bojong Indah Parung yang jauhnya puluhan kilo dari Bintaro.

Kedua, pengembangan sumberdaya manusia pengelola masjid. Misalnya menerapkan manajemen berbasis karakter. M. Zen (2006) menggunakan pendekatan The Eight Habit­nya Covey dalam memberdayakan masjid. Hal yang sama dilakukan oleh Abdul Matin (2006) dalam mengelola jamaah masjid dan majlis taklimnya. Sehingga ke depan bahkan masjid memiliki standar minimal, mulai dari sistem, kualitas pengurus, dan impact kepada masyarakat sekitarnya. Artinya, kualitas SDM menjadi suatu keharusan bagi kesuksesan sebuah masjid.

Ketiga, akuntabilitas, dan pelayanan publik. Sebagai lembaga publik—maksudnya bukan milik perorangan—masjid harus juga menjadi pelopor gerakan transparansi, akuntabilitas, dan profesionalisme dalam pelayanan. Untuk menunjang hal ini, memang diperlukan partisipasi aktif dan besar dari ummat atau jamaahnya. Sehingga dengan keterlibatan ini, masjid memang benar-benar dirasakan milik ummat, bukan milik DKM, apalagi ulamanya. Akuntabilitas dan kualitas layanan publik akan menjadi masjid sebagai sentral gerakan. Mengapa? Karena praktik itu akan menciptakan trust yang mendalam dari jama’ah dan orang sekitar. Jika sudah demikian, seperti bola salju gerakan ini akan semakin membesar.

***

Kesalehan sosial identik dengan perilaku seseorang yang baik, penyayang, dan lebih mengedepankan aspek-aspek kemanusiaan. Kesimpulan ini tentu saja benar, sejauh seluruh perilaku baik itu memang diturunkan dari dan merupakan pancaran perilaku atau kepasrahan ritualnya. Hanya saja, beberapa orang menyimpulkan bahwa kesalehan sosial tidak memerlukan kesalehan ritual. Jika yang ini, tentu saja salah. Sebab, ibarat makan yang dilakukan hanya materinya, sementara ruhnya tidak ikut makan. Jadi, kesalehan sosial tanpa kesalehan ritual akan hampa; sedangkan kesalehan ritual tanpa kesalehan sosial tidak akan bermakna. []

Catatan: Tulisan ini sudah dimuat di Majalah Warta BAPPEDA Jawa Barat Edisi Agustus 2007