I
Salah satu aporisme hukum besi kapitalisme adanya adanya Tangan Tuhan yang tidak terlihat (invisible hand) dalam proses pengelolaan kesejahteraan manusia. Begitu kira-kira Adam Smith menemukan spiritualitas dari nilai-nilai kapitalisme dalam magnum opusnya “the wealth of nation ”.
Namun sayangnya, beberapa di antara kita menganggap bahwa Tuhan itu sebenarnya sesuatu yang berpusat pada diri manusia sendiri. Sehingga, nilai-nilai kemuliaan dari sebuah sistem kehidupan di mana Tuhan tidak (hanya) bermain dadu tetapi ternyata mengarahkan dadunya langsung, banyak terbukti belakangan ini.
II
Salah satu yang saat ini dicemasi adalah krisis finansial global. Seperti banyak dijelaskan oleh para pengamat, analis, dan opini di banyak intelektual, penyebab utama dari krisis global adalah kapitalisme yang terlalu didewakan yang kemudian memuncak pada ‘penghiatan’ atas dogma kapitalisme sendiri. Nilai-nilai yang sejatinya terdiaspora pada para pelaku pasar—karena sesungguhnya mereka sendirilah ‘pasar”—justru digembosi demi kepentingan sesaat mereka. Bahkan ketika simptom ini muncul, para pelaku ini bukannya malah bertaubat, justru makin gencar memetik keuntungan untuk perut mereka sendiri dengan cara-cara yang sudah tidak halal.
III
Dalam pengamatan saya sendiri, rontoknya kapitalisme yang salah satu kitabnya adalah buku yang dikarang oleh Adam Smith tersebut, karena nilai-nilai yang diusungnya seperti semangat saling menyejahterakan sesama, serta membiarka Tuhan hadir dalam sistem pasar yang mereka ikuti, itu sudah tidak lagi direken, digubris. Alhasil, seperti kata sebuah pepatah, kapitalisme menjadi ‘menepuk air di dulang; terpercik muka sendiri’.
Salah satu pihak yang menerjemahkan dengan baik logika kapitalisme adalah Bank Indonesia (BI). BI memahami bahwa ada banyak pasar dalam kehidupan sosial politik di Indonesia. Salah satunya adalah pasar Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Bagi BI, DPR adalah pasar lain yang harus dikendalikan jika ingin menggoalkan maksud dan tujuan mereka. Salah satu yang menjadi banyak disorot adalah UU independensi BI yang kelewatan. Mengapa? Di negara-negara maju saja, BI itu tidak independen murni. Ia tetap menjadi lembaga yang mencerminkan keadilan dalam setiap tanduk dan tindakannya. Tidak petantang petenteng mentang-mentang yang megang duit, sehingga menetapkan kesejahteraan diri mereka seenaknya. Memangnya BI milik nenek moyangmu?? Begitu kira-kira pandangan kita mengenai status BI yang sudah menjadi negara dalam negara.
IV
Sebenarnya, independensi BI yang kelewatan ini bisa dirubah asal DPR nya aware. Dan tampaknya memang demikian. Buktinya adalah BI kemudian menyiapkan dana yang sangat besar untuk memelihara syahwat enak yang di saat reformasi ini sudah mereka rasakan. Demi syahwat enak inilah, miliaran duit rakyat dikeluarkan untuk menggoalkan nafsu dan ambisi mereka: menjadi negara dalam negara!
Padahal, jika ini ambisi pribadi para pejabat BI, mengapa tidak duit mereka sendiri saja. Bukankah gaji mereka lebih besar bahkan dari Presiden RI sendiri? Selain itu, gaji mereka juga dibayar 18 bulan pertahun. Ditambah uang bunga untuk hiasa meja yang berjuta-juta, uang makan, uang perjalanan dan sebagainya, sebenarnya para pejabat BI ini gak perlu menguras duit negara jika hanya mau ‘menyogok’ anggota DPR.
V
Kelakuan para pejabat BI ini memang sudah seperti penjahat. Menetapkan sendiri aturan yang ada di dalam tubuh organisasinya, sementara amunisinya sendiri diambil—tepatnya diperas—dari duit rakyat.
Dalam kasus lain—gilanya pejabat BI—mereka yang diindikasikan bersalah juga maunya dibantu lagi. Lihat aliran dana dari yang 100 miliar tersebut, 68,5 miliarnya dipergunakan untuk membayar para pengacara yang disewa mereka. Lagi-lagi, mentang-mentang mereka yang megang uang, lancar saja para pejabat ini meloloskan puluhan miliar untuk kesalahan mereka.
Dalam persepsi orang BI, di Indonesia hukum adalah pasar. Pasar adalah duit. Sedangkan mereka memegang duit. Sehingga mereka bisa mengendalikan pasar karena duitnya mereka yang pegang. Asyikk.
VI
Dalam konteks ketidakberdayaan menjerat mereka ini, ternyata hipotesis kapitalisme mengenai masih adanya “Tangan Tuhan yang tidak terlihat” terbukti. Tidak perlu menunggu pengadilan di hari akhir, Tuhan muncul melalui KPK. Masih terlalu lembut memang. Prosesnya masih sangat manusiawi. Misalnya masih ada pembuktian, dll. Tapi yang pasti, orang-orang pongah nan congkak yang ada di BI satu persatu mulai rontok. Seperti gigi mereka yang mulai menua. Mata mereka nanar seperti rabun mata yang mulai mendera mereka. Pasar duit untuk sektor hukum, legislatif, dan lain-lain yang selalu dibuat gampang karena BI megang duit, mulai kembali ke genuinitasnya.
Sayangnya Tuhan bukan saya. Sebab jika Tuhan itu saya, pejabat-pejabat pintar tapi kerdil hati itu sudah langsung saya ‘dudut’ jantungnya, saya pecahkan batok kepalanya, dan saya perlihatkan sel-sel memori yang merekam setiap tindak durjana mereka.