Dalam beberapa hari ini, kita akan menyaksikan keindahan yang berlaku setahun hanya beberapa kali. Para pemudik akan berbondong-bondong dari kota-kota besar ke kota kecil atau ke pelosok. Mari kita gambarkan perjalanan mereka dalam pergerakan cahaya.

Jika Jakarta atau kota besar tempat para pemudik ini tinggal selama ini adalah sumber energi, maka perjalanan para pemudik adalah pendaran cahaya yang akan menyinari kampung halaman, tanah tumpah darah, tempat energi primordial pertama dijejakkan.

Sebagai area dengan kapasitas energi yang sangat besar, maka wajar jika kota-kota besar selama ini selalu menjadi tumpuan banyak pihak untuk mencari peluang dan kesempatan. Dalam benak mereka, sebagai sumber energi yang besar, wajar jika kemudian kota-kota ini sedikit berbagai cahaya bagi mereka. Bukankah yang terlihat sedikit di kota (sumber energi) itu adalah energi luar biasa jika diarak di kegelapan.

Mari kita menengok ke desa-desa. Sumberdaya energi mereka sebagian besar dialirkan ke kota. Sawah-sawah yang menghasilkan beras, kebun yang menghasilkan sayur mayur, bahkan pepohonan yang mengeluarkan air dan hawa bersih, sebagian besar dialirkan ke kota-kota.  Tidak hanya itu. Magnetisme kota juga telah menyedot energi kreatif dan kemudaan warga di pedesaan untuk berjibaku, berjuang, dalam jejalan peluang yang katanya disediakan di kota. Mereka berkontestasi menjadi apapun, yang penting sedikit energi kota itu kelak, di saat Lebaran akan dibawa ke desa mereka.

Maka jangan heran jika kita mendapati, Jang Iding yang asli Cikaok itu tadinya lugu, polos, sederhana, itu tiba-tiba berubah. Rambut dicat merah sebagian, pake jeans robek sebagian, kaos panjang sebagian, dan juga omongannya sudah dicampur logak “loe” dan “gue” sebagian. Begitu juga Neng Acih, yang di kota dia ubah menjadi Ann—nama artis Holywood. Meski ia hanya PRT, tapi jangan salah. HP yang dia pake sudah BB dengan layanan internet full, yang mungkin di tempat kerjanya lebih bagus dari majikannya.

Begitulah energi kota menjadi cahaya bagi banyak kalangan. Besar kecilnya cahaya, benar-tidaknya cahaya, tergantung bagaimana mereka melakukan konstruksi realitas yang mereka dapatkan.

Energi yang mereka kumpulkan itu, kemudian digenggamnya ketika mereka mudik. Ibarat kunang-kunang yang meninggalkan sumber energi besar, perjalanan mereka begitu indah jika dilihat dari angkasa. Menelusup relung-relung kegelapan, menyibak semua asa, untuk satu tujuan yang membanggakan: bersilaturahmi dan berbagi energi.

Mudik adalah arena berbagi cahaya. Banyak energi (uang, materi, dll) mengalir ke desa-desa. Desa yang tadinya ‘gelap’ karena jarang menjadi perhatian perencana kebijakan dan tujuan agenda pembangunan, menunjukkan geliat yang mengharubiru seluruh penghuninya. Tua muda gagah berbusana. Anak-anak dan orang dewasa ramah saling berbagi senyum dan tawa.

Di Indonesia, mudik sudah menjadi persoalan banyak hal: Spiritual, sosial, budaya, ekonomi, dan sebagainya.

Secara spritual, mudik upaya menyambungkan lagi tali energi dari pribadi luar biasa di kota dengan di desa; dari sisi sosial, mudik telah menjadi kebutuhan karena di dalamnya bisa ada aktivitas bebagi entah informasi, opportunity, dan sebagainya. Dari sisi budaya, mudik sudah menjadi tuntutan kebudayaan yang jika tidak dilaksanakan seolah-olah ada cahaya yang hilang. Sedangkan dari sisi ekonomi, mudik telah menjadi ekspresi bagaimana kesuksesan dicitrakan. Bahkan di tempat-tempat tujuan wisata, hari-hari mudik sudah diestimasi menjadi peluang ekonomi dengan indikator okupasi yang tinggi pada hotel/ penginapan, restoran, tempat wisata, dan tempat belanja lainnya.

Maka mudik gak perlu dilarang. Bangsa ini sudah menjadikan mudik sebagai “sesuatu”.

Yang perlu dilakukan adalah menatanya agar semua pihak senang dan bahagia.

Salam Mudik.