Beberapa hasil survey yang dirilis berbagai lembaga memancing diskusi baru lagi mengenai kepemimpinan. Diskusi menjadi semakin menarik karena pimpinan nasional saat ini, Presiden SBY, secara konstitusi sudah tidak bisa lagi mencalonkan atau dicalonkan kembali sebagai presiden untuk masa bakti 2014-2019. Artinya, kepemimpinan tahun 2014 menjadi arena baru yang akan diperebutkan setiap kontestan.

Teori Kepemimpinan

Jika menggunakan pendekatan sosiologis, epistemologi kepemimpinan bisa dilihat dari tiga perspektif: kepemimpinan konflik, kepemimpinan fungsional, dan kepemimpinan konstruktivis.

Kepemimpinan konflik lahir dan eksis karena terjadinya turbulensi dalam sistem kekuasaan aktual. Pertarungan antar pihak atau kelompok strategis yang berebut kuasa tadi, akhirnya melahirkan pemenang. Tidak jarang kemunculannya bisa beragam cara: Karena didzalimi penguasa (lihat kasus Megawati yang didzalimi Orde Baru), maka pemimpin itu menuai simpati publik/ rakyat meski bisa jadi sebenarnya minus harapan. Tetapi dalam konteks kepemimpinan seperti itu, seorang pemimpin merupakan ruang dari ekspresi ketidakpuasan publik atas kinerja dan sikap penguasa. Karena dalam imajinasi sosiologis masyarakat waktu itu, yang penting rejim yang berkuasa saat itu tumbang dulu.

Model kepemimpinan yang lahir dari situasi seperti ini, jika tidak ditransformasikan kepada sistem atau struktur yang benar, memiliki kecenderungan untuk melakukan tindakan resresif. Kehendak berkuasa atau terus mempertahankan kekuasaannya jika tidak direm akan berujung menjadi diktator. Kisah Sadam Hussein dan Moammar Khadafi bisa menjadi pelajaran akan model kepemimpinan yang lupa akan masa.

Kelebihannya, tipe kepemimpinan seperti ini memiliki kapasitas eksekusi yang cepat, tangkas, dan siap mengambil resiko atas keputusan yang diambilnya.

Sedangkan kepemimpinan fungsional adalah tipe kepemimpinan yang ditempa untuk memiliki kemampuan mengelola masalah, menyelesaikannya dengan smooth, dan membangun proyeksi-proyeksi keberhasilan dalam proses kepemimpinannya. Ia berkutat pada sistem yang dipercaya katarsis dan impersonal dari kepentingan-kepentingan pribadi. Ia juga meyakini bahwa setiap orang akan memiliki jalur kepemimpinannya masing-masing. Kita terkadang menyebut tipe kepemimpinan seperti ini sebagai ahli atau profesional.

Namun kelemahannya tipe kepemimpinan seperti ini adalah cenderung sangat kompromi, hati-hati karena anti konflik, dan tidak percaya pada eksprerimen baru mengenai proses. Logika rasionalitasnya yang sistematis meyakini bahwa setiap riak-riak kecil yang terlihat seperti akan mendestruksi proses akan dieliminasi bahkan jika perlu dibuang dari sistem karena dimaknai sebagai virus.

Tipe kepemimpinan ketiga adalah konstruktivis. Model kepemimpinan seperti ini lahir dari menggumpalnya harapan-harapan kepada seorang yang dianggap memiliki ajimat atau kapasitas di luar kebiasaan orang biasa. Kita kadang menyebut atau menamainya sebagai “Ratu Adil” atau “Satria Piningit”, atau apa saja.

Yang pasti model kepemimpinan konstruktivis ini lahir karena ada kemandegan sosial-budaya di tengah masayarakat dan telah menyebabkan munculnya kegalauan sosial yang mengkhawatirkan. Kegalauan ini kemudian diekspresikan dalam seruan-seruan yang sedikit banyak bisa menjadi semacam pelipur lara. Model kepemimpinan seperti ini dulu pernah ditampilkan dengan cantik di masa Soekarno menjabat presiden. Pentahbisannya adalah manaka Bung Karno dihadiahi banyak gelar oleh masyarakat.

Kepemimpinan Kreatif

Ketiga model kepemimpinan seperti di atas tampaknya secara implisit sedang ditampilkan ke publik saat ini. Tentu saja, memikat ratusan juta rakyat Indonesia agar tahun 2014 memilihnya jelas tidak mudah. Ada saat mereka tampil harus seperti Ratu Adil yang bisa menjawab harapan, tapi ada kalanya mereka tampil menjadi sosok super pemenang dari setiap pertandingan.

Dengan kebutuhan demikian maka setiap orang yang akan tampil harus menampilkan model kepemimpinan kreatif. Karena dalam model kepemimpinan kreatif, ia memiliki beragam kapasitas sosiologis yang berimplikasi kepada cara mereka memikat hati rakyat. Kapasitas ini yang kemudian akan ditawarkan kepada rakyat.

Akan tetapi seorang pemimpin kreatif bukan mereka yang cerdik mencerdiki rakyat dan pintar memintari rakyat.

Seorang pemimpin kreatif adalah mereka yang jiwanya selalu kreatif mencari solusi bagi rakyat, kreatif memikirkan kebutuhan rakyat, kreatif membangun visi baru dalam menyejahterakan rakyat, dan kreatif dalam mengelola keragaman dan dinamika sosial-budaya rakyat. Jika sudah ada yang mampu tampil seperti ini, tidak mustahil dia akan menjadi pemimpin pilihan rakyat tahun 2014 dan selanjutnya. []Oleh Tantan Hermansah