Bagian II

Pada dua tipologi masyarakat Sunda di atas, kita kadang merasakan kegalauan yang sangat besar, termasuk jika kemudian ada kesimpulan yang menyebutkan bahwa kesundaan sedang menuju ke arah kepunahan. Namun jika kita melacak lebih dalam, kecemasan tersebut bisa langsung sirna manakala kita mendapatkan tipologi ketiga.

Tipe Ketiga: Militan

Tipe kelompok masyarakat Sunda ketiga adalah mereka yang militan. Mereka adalah masyarakat Sunda yang memiliki semangat juang tinggi untuk membangun dan melestarikan Sunda dan Kesundaan. Model ketiga ini juga bisa dikelompokkan menjadi beberapa model: (1) “Model aktif-progressif”. Istilah ini kami pergunakan untuk menggambarkan dinamisasi aktivisnya baik di aras pikiran maupun gerakan. Model ini adalah mereka yang aktif melakukan upaya-upaya untuk membangun kesundaan dengan berbagai kreasi dan potensinya. Mereka aktif mengkaji, mendalami, menyebarkan, maupun mempertajam, bahkan mengagungkan nilai-nilai Budaya Sunda. Mereka mengimplementasikan nilai-nilai kesundaan bukan hanya pada bertutur kata, namun juga dalam tulisan, perbuatan, dan sebagainya. Mereka aktif memperjuangkan kesundaan di berbagai forum, media, dan lainya.

Kelompok yang masuk kepada model ini banyak kami temukan pada komunitas kesundaan yang kami temui, tidak terkecuali para inohongnya. Mereka aktif menggalang dukungan, dana, dan sebagainya untuk “nanjeurkeun“(menegakkan) budaya dan “kaluhungan“(keluhuran) Ki Sunda. Namun di sisi lain, mereka cenderung kurang kritis terhadap nilai-nilai Kesundaan itu sendiri. Bahkan, pada beberapa hal, kami menangkap kesan bahwa Budaya Sunda itu seperti suatu ziarah eksotis di tengah kebisingan budaya hedonis dan kapitalis yang ada. Budaya Sunda menjadi peraduan setelah kepenatan sebagai manusia modern melanda. Karena kurang kritis, gejala yang muncul di aras gerakan adalah romantisme atas Budaya Sunda masa lalu.

(2) “Model militan-kritis”. Model kelompok ini mereka yang melihat Budaya Sunda bukan melulu hanya pada artefak fisik semata, tetapi lebih pada nilai-nilai dan pesan yang disampaikannya. Kelompok ini, yang kami melihatnya sangat sedikit, melihat Sunda dan Kesundaan lebih kepada inti budaya serta citra kesejatian yang ditampilkannya. Bagi mereka, Sunda dan Kesundaan adalah daya hidup yang perlu dicermati, namun tidak mesti ditahbiskan secara habis-habisan. Kelompok ini, secara kritis melihat bahwa Sunda bukan sesuatu yang abadi. Toh itu hanya produk manusia, yang ada zaman dan masanya. Sehingga, dengan kekritisannya justru semakin menguatkan Sunda dan Kesundaannya sendiri.

Kelompok model militan-kritis ini, kami jumpai—langsung bertatapan atau hanya melalui buah pemikiran—justru di arena-arena yang sering kurang diperhitungkan. Mereka ini berjalan, bergerak, berusaha, dan berjuang tanpa banyak basa basi. Mereka mendokumentasikan, menelaah, mendiseminasikan, dan mendebatkan berbagai strategi Kesundaan, konsep ke depan mengenai Budaya Sunda dan sebagainya,–bahkan nyaris—tanpa publikasi. Kelompok ini, bahkan tidak mementingkan banyaknya “patarema beunget“, tetapi lebih banyak pertemuan karya.

Dari ketiga tipe masyarakat di atas, hanya kelampok dua dan tiga yang umumnya menghimpun diri dalam sebuah wadah untuk memperjuangkan ide dan gagasannya. Asosiasi atau wadah tersebut ada yang fomal, ada yang semi formal, ada yang informal sama sekali. Beberapa asosiasi adalah perwakilan-perwakilan politis dari kelompok-kelompok budaya yang terikat oleh loyalitas-loyalitas primordial yang sangat intens, tetapi ada juga yang bernuansa relijius keagaman.

Kesimpulan

Sebagai masyarakat yang memiliki sejarah sosial dan budaya yang sudah sangat panjang, masyarakat Sunda memiliki model sendiri. Pendekatan tipologis mengantarkan kita menemukan struktur masyarakat Sunda yang cukup lengkap. Sehingga dengan pemahaman seperti ini, siapapun—pemerintah, komunitas pegiat kesundaan, tokoh dan politisi Sunda—bisa merumuskan agenda kebudayaan untuk masyarakat Sunda di masa kini dan masa mendatang, dengan teknik-teknik yang sistematis dan komprehensif. []

Tantan Hermansah adalah Dosen Sosiologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, anggota Komunitas Urang Sunda di Internet (KUSNET)