Oleh: Tantan Hermansah*

Bagian I

Pengantar

Sebagai satu entitas masyarakat yang dinamis, masyarakat Sunda tentu memiliki sikap dan perilaku sendiri dalam menghadapi situasi jamannya. Analisis berikut ingin memberikan gambaran terkini masyarakat Sunda saat ini dari perspektif orang biasa. Sebagai orang biasa, penulis menggunakan instrumen yang sederhana untuk memetakannya, yakni hasil pergulatan dan pergaulan dengan masyarakat Sunda di berbagai komunitas. Tentu saja, karena merupakan bagian dari entitas yang dipetakan, subyektivitas penulis sangatlah besar dalam membangun kerangka analisisnya.

Saat itu November tahun 2005. Pada sebuah mailing list yang selalu mendiskusikan masalah-masalah kesundaan, beberapa pandangan mengenai citra sejati masyarakat Sunda berseliweran. Beragam pandangan mengenai siapa sebenarnya urang sunda dikemukakan. Mulai dari kategori biofisik, sampai kepada hal-hal yang bersifat supra-mental seperti komitmen. Penulis menyimak seluruh diskusi cerdas tersebut dengan kekaguman. Sebab komitmen yang begitu besar dari mereka mengenai kesundaan berbeda jauh dengan beberapa orang tua maupun komunitas masyarakat Sunda lain yang justru sangat nihil dengan masalah kesundaan.

Dalam perjalanan ke luar daerah untuk melakukan riset-riset dalam bidang kerja penulis, sering menemukan atau bertemu dengan orang sunda yang justru berbanding terbalik dengan urang sunda yang live in di daerahnya. Dari hasil temuan sana sini seperti itu, penulis membuat tipologi untuk memotret urang sunda terkini.

Mengapa tipologi? Membangun pandangan menggunakan instrumen tipologi, kita bisa mempelajari dan mendalami setiap entitas masyarakat mulai dari asal usul, tatacara, konsep, nilai-nilai, world view, dan perspektif mereka. Dari pandangan tipologis ini maka bisa diperdalam (baca: didiskursuskan) mengenai arah dan dinamika sosial-ekonomi-politik masyarakat yang dijadikan subyek analisis. Tipologi sendiri merupakan satu di antara sekian banyak tool yang lazim dipergunakan dalam ilmu sosiologi.

Ketika instrumen ini dipergunakan, scanning awal menemukan bahwa ternyata masyarakat Sunda tersusun dalam struktur yang piramidal. Struktur piramidal ini tidak sedang memeringkati masyarakat Sunda, hanya mencoba memberikan gambaran yang lebih detil mengenai kondisi orang sunda pada saat analisis ini dilakukan.

Tipe pertama: Teu paduli dan Hare-hare

Tipe pertama Urang Sunda Kiwari adalah mereka yang acuh tidak acuh terhadap Budaya Sunda. Ada atau tidak, eksis atau tidak, menguntungkan atau tidak, mereka tetap “hare-hare” atau tidak peduli. Masyarakat tipe ini nyaris tidak punya imajinasi tentang masyarakat—apalagi kebudayaan; mereka berjalan-bergerak seperti sampah di air sungai. Tidak memiliki tujuan utama; sebab sesungguhnya mereka hanya “penumpang” saja. Kelompok masyarakat seperti ini cenderung hanya mengambil untung, tanpa mau usaha. Mereka hampir pragmatis, tapi minus kreatifitas.

Jika diurai lebih lanjut, masyarakat Sunda tipe ini terdiri dari beberapa model: (1) “Model teu paduli aktif” adalah mereka yang “teu paduli” terhadap nilai-nilai kesundaan, dan mengajak orang lain untuk bersikap serupa. Atau paling tidak mereka menjadi teladan negatif dalam apresiasinya terhadap Budaya Sunda. Sehingga, jika disebut bahaya, mereka menempati posisi nomor satu; dan (2) “Model teu paduli pasif” adalah mereka yang tidak sedikitpun memiliki “ghirah” kesundaan namun “cuek bebek” pada keadaan sekitar. Mengikut arus, jadi penumpang, tetapi tidak ada kepedulian untuk bersikap ya atau tidak.

Tipe kedua: Peduli dengan syarat

Tipe masyarakat Sunda kedua adalah mereka yang memiliki kepedulian terhadap nilai-nilai kesundaan, namun dengan berbagai prasyarat. Mereka ini cenderung gengsi untuk berbudaya, berperilaku “nyunda”, kecuali ada keuntungan-keuntungan yang bisa diperolehnya, baik berupa materi langsung maupun diakomodasinya kepentingan diri atau grupnya. Rasionalitas mereka terhadap Budaya Sunda bisa diklasifikasikan lagi menjadi: (1) Urang Sunda yang enggan menggunakan nilai-nilai Budaya Sunda karena merasa bahwa dengan menunjukkan, memakai, dan berperilaku “nyunda” tidak ada untungnya. Baru jika ada peluang yang akan memberikan keuntungan, mereka tiba-tiba menjadi sangat “nyunda”, dan “asa aing pang akangna!”. Kelompok ini mirip pedagang, menggunakan identitas kultural hanya untuk kepentingan ekonominya saja. Tipikal kedua dari mereka yang peduli dengan syarat adalah mereka yang enggan menggunakan Budaya Sunda karena bagi mereka memakai identitas Sunda berarti suatu kemunduran. Dalam pandangan mereka, di era globalisasi, di mana dunia terintegrasi dengan sistem dan mekanisme sosio-budaya-ekonomi-politik-pengetahuan yang lebih besar, mengunggulkan sesuatu yang bernilai kedaerahan hanya merupakan anomali sosial yang dikentarakan. Mereka akan menggunakan identitas kesundaan jika ternyata ada prospek “masa depan”. Kedua model masyarakat tipe pertama ini memang hampir mirip. Yang membedakannya adalah landasan rasional dan pengeterapan Budaya Sunda saja.

***

Secara umum, dua model masyarakat Sunda yang disebutkan di atas jelas tidak bisa dijadikan teladan dalam mengimankan Kesundaan. Sebab di tangan mereka, apa yang kita kenal sebagai pengorbanan, kesetiaan atau loyalitas, dan sebagainya, jelas merupakan proses yang harus dijauhi karena membuang-buang energi.

Di masa kampanye seperti saat ini, dua model masyarakat Sunda seperti keberadaannya bisa jadi sangat signifikan. Maka dari itu, kita berharap bahwa para calon anggota legislatif yang berasal dari daerah pemilihan ‘tatar sunda’ memiliki kepekaan dan kepedulian kepada tipikal masyarakat ini, dengan cara melakukan beberapa agenda politiknya demi memajukan kesundaan. []Bersambung