Bagaimana peluang Megawati tahun 2014?

Tulisan ini hanya melihat peluang di 2014 dengan mempertimbangkan fakta politik pada pemilihan tahun 2009.

***

Jika kita mengurai beberapa kesalahan mendasar dari partai ini, maka kita bisa memetakannya pada beberapa faktor berikut: Pertama, kesalahan pada strategi kampanye. Jika dirunut lebih jauh, maka partai ini jelas salah mengambil konsultan politik dia selama peperangan berlangsung. Kesalahan ini jika lebih dalam ditelusuri, diakibatkan oleh kesalahan metodologis yang dilakukan oleh konsultan tersebut, yang justru fatal sekali. Kita bisa mengingat kembali bagaimana dua lembaga survey menghasilkan dua hasil yang berbeda, hanya karena salah satu dari lembaga survey itu memang merupakan konsultan politik dari partai ini. Sejatinya, lembaga ini bisa menjelaskan fakta dasar dari keadaan partai ini, sehingga strategi yang dibangun bisa lebih tepat. Misalnya, jika fakta dasar itu hanya sekian–misalnya masih ada pada tingkatan di bawah harapan—maka tinggal dirumuskan saja strategi yang harus dilakukannya untuk menaikkan elektabilitas partai—bukan meninabobokan dalam hasil survey yang tinggi.

Kedua, kesalahan berikutnya yang dilakukan oleh PDIP adalah hanya mengandalkan massa tradisionalnya semata sebagai basis. Sehingga partai ini kalang kabut ketika pemerintah dengan sistematis menggelar program-program populis yang notabene menyentuh kebutuhan pemilih tradisional mereka.

Ketiga, kesalahan berikutnya adalah ketidakberanian PDIP menampilkan figur baru dalam kontestasi politik yang berlangsung. Sentralitas Megawati menyebabkan terkuncinya tokoh-tokoh baru dalam partai ini, sehingga susah muncul ke permukaan. Sementara di sisi lain, Megawati juga menampilkan sistem monarkhi partai dengan memunculkan anaknya, untuk ikut masuk ke bursa kontestasi tanpa melalui proses yang memadai. Akibatnya, PDIP dihadapkan pada pilihan-pilihan kritis, terutama mobilitas vertikal yang seharusnya bisa mengisi partai dengan energi-energi baru yang berkubang dengan pengalaman.

Keempat, keempat merupakan kelanjutan dari kesalahan ketiga yakni ketika ketidakberanian untuk menampilkan figur baru, adalah minimnya kreativitas dari kader untuk menjadikan dirinya sebagai pusat perubahan dan magnet dari perilaku tauladan. Keengganan menjadi magnet ini muncul karena para kader takut mendelegitimasi Megawati. Hal ini berbanding terbalik dengan partai Golkar. Partai ini mampu menunjukkan diri sebagai partai yang dinamis, di mana kader yang tampil ke publik pun sangat banyak.

The End of Megawati

Jika melihat sejarah, tren Megawati bertarung untuk memperebutkan kursi presiden, selalu kalah. Ketika partai ini merajai pemilu tahun 1999, Megawati dikalahkan Gus Dur. Begitu juga pada saat Megawati bertarung melawan SBY pada tahun 2004, ia juga kalah telak. Satu-satunya kesempatan Megawati menjadi Presiden RI adalah manakala Gus Dur dikalahkan oleh parlemen. Jadi secara hakiki, Megawati tidak memiliki sejarah memenangkan pertarungan.

Untuk itu ke depan, meski tinggal beberapa bulan ini, PDIP harus berani mereposisi diri untuk menyimpan Megawati di tempat tinggi. Adapun hiruk-pikuk arena politik ini, sudah saatnya diserahkan kepada kader partai yang selama ini ‘tiarap’ karena menunggu Megawati lengser. Sebab jika partai ini kembali ‘menawarkan’ Megawati sebagai jualan di kampanye Pilpres nanti, sudah bisa diprediksikan partai ini bukan hanya babak belur, melainkan akan menanggung aib yang luar biasa besar, di samping akan kembali menguras sumberdaya—baik kapital maupun politik—yang sangat besar.

Apa yang dikemukakan ini didasarkan kepada faktor jebloknya PDIP saat ini, bisa jadi karena faktor Megawati. Sementara rakyat ingin perubahan, termasuk dalam tubuh partainya sendiri.

Saya yakin, kalangan PDIP yang cerdas sudah lama membaca hal ini. Ibu Megawati sudah saatnya dihormati sebagai tokoh bangsa, bukan lagi kader partai yang dipresidenkan. Dan saat ini adalah momen yang tepat untuk mengkomunikasikan hal ini kepada sang Ibu. Tampilkan saja kader lain yang memiliki potensi besar. Dengan restu Megawati, pasti para pendukung PDIP langsung mendukungnya.