Banyak aparat pemerintah daerah kebingungan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Alhasil yang dilakukan menggunakan pendekatan konvensional seperti pada instrumen pajak atau pungutan-pungutan lain yang tidak jarang membebani pengusaha. Akibatnya banyak pengusaha merasa tidak nyaman. Terlebih lagi banyak biaya ‘tidak pasti’ yang puncaknya para pemilik modal itu enggan menginvestasikan modalnya.

Padahal sudah seperti menjadi keyakinan umum bahwa masuknya modal dari luar dalam bentuk investasi, bisa memicu pertumbuhan ekonomi. Sementara di sisi lain, kita memiliki sumberdaya budaya yang tiada akan habis untuk dieksplorasi. Sumberdaya budaya ini, jika menggunakan pendekatan Bourdieu misalnya, bisa dibangun sebagai salah satu capital yang bisa menjadi proses akumulasi ekonomi bagi pelakunya.

Kreativitas

Dunia kita hari ini diharubirui peranan sosok-sosok besar seperti: J.K. Rowling, Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zukerberg, Ridwan Kamil, Mang Udjo, dan sebagainya. Mereka bisa dikatakan sosok-sosok yang hidup dan besar karena memanfaatkan energi kreatif.

Kreativitas yang dieksplorasi dan dikomunikasikan dengan tepat, telah menjadi pemicu banyak kemajuan sebuah entitas. Entitas kreatif di kawasan Silicon Valley, di mana tahun 2005 saja terdapat 22.000 perusahaan yang melibatkan jutaan pekerja ini, tumbuh dan mempengaruhi struktur industri global. Dengan menjadikan kreativitas sebagai sumber kemajuan, entitas ini bahkan dianggap telah menjadi ikon kemajuan abad 21.

Selainnitu, manusia-manusia di Silicon Valley telah menjadi bukti nyata bahwa kreatifitas merupakan sumberdaya yang bisa memberikan kontribusi yang besar bagi masyarakat.

Budaya sebagai Modal Kreatif

Indonesia telah lama dikenal sebagai bangsa yang memiliki khazanah budaya yang beragam. Sejauh ini, kekayaan budaya ini belum disadari sebagai capital yang bisa dieksplorasi sebagai sumberdaya ekonomi. Hanya beberapa daerah yang sudah lama menjadikan budaya yang mereka miliki sebagai modal kreatif. Bandung, Bali, dan Yogyakarta merupakan tiga contoh kota yang salah satu sumber penggerak nadi ekonomi warganya adalah kreativitas.

Sehingga karena menyadari bahwa mereka jasa kreatif itu yang menghidupi mereka, maka secara alamiah tumbuh kemampuan relasi personal diantara warganya. Bahkan lebih jauh, sikap toleransi, sopan santun, dan melayani tumbuh subur dalam keseharian mereka. Terlebih lagi banyak nilai-nilai lokal yang memang sangat relevan dengan kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Contoh pada masyarakat Sunda ada istilah “someah hade ka semah” (sangat ramah dan baik kepada semua tamu) adalah semacam filsafat bagaimana Urang Sunda memperlakukan warga yang berkunjung kepada mereka. Ajaran ini jelas bersambungan dengan prinsip-prinsip costumer satisfaction dalam manajemen modern. Saya kira, di budaya lain, di belahan tempat yang lain, nilai-nilai penghormatan seperti pasti dipunyai.

Sinergi

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana langkah yang harus dilakukan oleh pemerintah (pada semua tingkatan) agar energi kreatif yang terdiaspora pada masyarakat ini, bisa mewujud menjadi modal kreatif yang secara nyata bisa disalurkan bagi kemajuan ekonomi.

Setidaknya ada tiga langkah strategis yang bisa dilakukan. Pertama, kolaborasi antara perguruan tinggi dan entitas kreatif harus diperkuat. Sebab banyak fakta membuktikan bahwa kolaborasi antara pribadi/ entitas kreatif dengan perguruan tinggi menjadi sangat strategis dalam memacu pertumbuhan kreativitas yang berujung pada menggerakkan perekonomian.

Kedua, memberikan fasilitas yang memudahkan seorang kreator mendapatkan hasil dari kreativitasnya. Fasilitas kemudahan ini misalnya berupa kemudahan mendaftarkan paten yang dimiliki oleh seseorang atas sebuah bentuk temuan serta perlindungan atas hasil karya mereka. Atau kemudahan mendapatkan suasana yang kondusif sehingga iklim kreatif bisa semakin berkembang.

Ketiga, memelihara iklim kompetitif yang menggelora di kalangan pelaku industri kreatif sehingga bisa semakin produktif. Sebab di beberapa kasus, perilaku kreatif akhirnya ‘pupus’ karena iklim kompetitif ini dikuasai oleh pemilik modal. Sehingga mereka yang masih dan baru merangkak untuk mengkontestasikan hasil kreasinya langsung ‘terbunuh’ tanpa sempat ‘bertanding’ di arena kreatif dengan fair. []