Apa yang dilakukan oleh banyak lembaga pendidikan jika hari Kartini tiba? Kebanyakan anak-anak sekolah berdandan (lebih tepatnya didandani) kebaya atau pakaian adat lainnya. Satu hal yang sangat positif, karena di dalamnya terkandung makna yang dalam—yang bukan sekedar menampilkan budaya saja.

Tidak sekedar berbusana daerah

Pada sekolah kelas Play Group dan Taman Kanak-kanak yang kami kelola, proses pengenalan budaya dilakukan justru melalui proses internalisasi pengajaran. Di saat banyak sekolah selevel membawa anak-anak didiknya ke tempat jajanan fast food, kami justru mengajarkan mereka untuk mengenal khazanah budaya makanan tradisional yang sehat seperti kelopon, surabi, kue talang, roda-roda, kue pare, dan sebagainya. Secara luar biasa, anak didik kami menanggapinya dengan sangat antusias. Terlebih lagi orang tuanya. Alasan mereka, “kalau ke tempat itu, kami juga sering”, katanya.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada sekolah lain yang menggunakan metode yang tidak kami lakukan, tetapi sejatinya pendidikan itu harus didasarkan pada sebuah prinsip yang jika meminjam istilah seorang pendidik sejati Paulo Freire: “membebaskan”. Prinsip membebaskan ini dilihat pada upaya-upaya yang dilakukan di institusi tersebut, untuk memberikan kesadaran ekologis si anak didik. Misalnya di sekolah kami, dalam sesi kunjungan ke rumah teman (home visit), bukan hanya di mana rumah dan kamarnya saja yang ditanya, tetapi bahkan si anak didik diminta untuk menerangkan tempat-tempat mereka sembunyi, kabur, atau “jalan tikus”. Hal ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa ruang ekologis mereka sangat luas, apalagi jika mereka sudah besar.

Mengapa pendidikan harus mengajarkan arti dan hakikat yang membebaskan, hal ini didasarkan pada beberapa alasan berikut: Pertama, karena anak didik adalah subyek, bukan obyek. Memosisikan subyek dan obyek dalam pendidikan membawa konsekwensi besar terutama pada system pendidikan, kurikulum, dan metode. Dengan model pendidikan selama ini, di mana guru adalah sentral pengajaran, melahirkan proses transformasi tindakan yang sulit maju.

Berbeda sekali dengan posisi anak didik yang diposisikan sebagai subyek. Jika mereka subyek dari pendidikan, maka mereka diberikan ruang-ruang ekspresi diri dan kemanusiaan mereka secara terbuka, terdialogkan, dan tentu saja membuka ruang dikritisi dan diperbaiki.

Kedua, karena anak didik adalah manusia, bukan robot yang terdiri dari partikularitas mesin. Sebuah mesin bisa dibuat sekehendak si pencipta, atau penguasanya. Sedangkan manusia, sudah dibekali Tuhan seperangkat software dan hardware yang lengkap. Sebagai guru tugasnya adalah melakukan proses aktivtasi saja. Ingat, aktivasi saja, bukan atau malah tidak perlu menginstal program baru. Cukup menemukan program yang ada di dalamnya, kemudian aktivasi agar soft ware itu tidak diam saja sehingga tidak bermanfaat.

Menjadikan cara pandang sebagai manusia ini karena berangkat dari kesadaran kita sendiri, hanya manusialah yang memiliki domain kebudayaan atau berbudaya. Sedangkan kebudayaan sendiri adalah daya, kekuatan, dan kebebasan untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Lalu, bagaimana bisa memosisikan manusia, sedangkan sistem pendidikannya sendiri represif?

Kembali kepada Kekuatan Budaya

Melalui gambaran kecil di atas, maka menjadi sangat terang bahwa misi utama pendidikan sejatinya harus membangun semangat yang memberikan ruang kebebasan utama bagi seluruh stakeholdernya. Dari sini, maka proses akan menjadi enak ketika akhirnya kita harus mengintegrasikan diri secara global.

Identitas budaya yang ditanamkan sejak dini di sekolah bahkan selevel PG-dan TK akan menjadi sebuah investasi masa depan yang bisa menjadi pilihan untuk mencapai kecemerlangan. Dalam konteks demikian, sudah saatnya system pendidikan diarahkan secara focus kepada penciptaan dan kristalisasi semangat kebudayaan dan memelihara budaya kita.

Sebelum menutup tulisan ini, penulis kutipkan sedikit pidato Kepala Sekolah yang kami kelola itu, bahwa di antara tekad untuk memelihara peninggalan nenek moyang, adalah sebagai penanaman semangat patriotism agar budaya itu digengam erat, sebelum dicuri oleh bangsa lain.

Lalu, apakah pendidikan kita selama ini tidak ‘berbudaya’? Mungkin tetap berbudaya juga, namun budaya kapitalisme global yang menjadi segala bentuk aktivitas komunikasi dan sosiologi ummat manusia saat ini, hanya sekadar pajangan. Budaya hanya ditampilkan pada hari Kartini saja, tanpa diserap apa semangatnya. Padahal budaya adalah semangat untuk belajar, tanpa harus toleran pada ruang dan waktu.