Kategori:

Buku

Jenis

Referensi

Penulis:

Amartya Sen

Agar Dunia Tak Dilumuri Semangat Bermusuhan

Mari kita berziarah kepada fakta kekerasan kolektif di sekitar kita: di Poso, konflik terus terjadi, bahkan makin tidak jelas siapa lawan siapa. Di pulau Jawa, beberapa orang ditemukan tengah mempersiapkan suatu “serangan” entah juga kepada siapa. Jauh sebelum kedua kasus yang disebutkan, konflik antar kelompok “agama” di Ambon berlangsung berbulan-bulan. Itulah antara lain setumpuk kekerasan yang menggumpal dalam memori kesadaran kita saat ini, yang kemudian menerbitkan pertanyaan: untuk siapa kekerasan itu diarahkan?

Fenomena kekerasan yang muncul di hadapan kita menyadarkan kita bahwa ada masalah besar yang tengah menggayuti manusia-manusia Indonesia saat ini. Dan jika kita memperhatikan tontonan di televisi misalnya, fenomena kekerasan ini bisa dikatakan tidak dimonopoli oleh kalangan atau aktor tertentu. Ia tidak hanya ada di di kalangan bawah yang terimpit persoalan ekonomi saja, tapi juga kelas menengah dan atas yang “mapan”. Juga tidak hanya terjadi pada kelas tidak terdidik (tapi juga melek intelektual), atau orang dewasa (tapi juga anak-anak), gender, atau jabatan dan jenis pekerjaan tertentu. Bahkan, gejala kekerasan yang ditampilkan oleh invidu-individu pada institusi penegak hukum juga bukan hal aneh lagi. Pokoknya, fakta kekerasan dengan berbagai gradasi dan skalanya ada pada semua pihak.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kekerasan berarti “perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang lain”. Kekerasan juga bisa bermakna “paksaan”.

Agak berbeda dengan pandangan umum kita mengenai fakta kekerasan ini, Amartya Sen melihat kekerasan dengan sudut pandang yang lebih jeli dan menukik. Dalam bukunya Kekerasan dan Ilusi tentang Identitas (Serpong: Marjin Kiri, 2007), ia menyingkap berbagai realitas simbolik dari setiap gejala kekerasan, selain mencoba mengurai akar ideologis kekerasan itu sendiri. Di Indonesia Amartya Sen lebih dulu dikenal sebagai seorang ekonom yang risetnya tentang kemiskinan dan akses masyarakat terhadap hak-hak dasarnya telah mengantarkannya meraih Hadiah Nobel Ekonomi 1998. Namun di buku ini kita melihat sisi lain Sen sebagai seorang pemikir sosial dan filsafat, yang tak beda dengan pergulatannya di ilmu ekonomi, juga menghadirkan analisa menggugah tentang situasi kontemporer dunia kita. Edisi Inggris buku ini sebenarnya pernah diulas di Koran Tempo, namun ada baiknya mengulas kembali edisi Indonesia yang diterjemahkan dengan baik ini, yang penerbitannya punya relevansi penting dengan kondisi kita sekarang.

Kritik atas tesis Huntington
Sen mengungkapkan bahwa semua fenomena kekerasan kolektif itu sesungguhnya sangat tergantung kepada sistem pengetahuan kita mengenai cara pandang terhadap kekerasan itu sendiri. Selama beberapa tahun belakangan, terutama semenjak peristiwa 11 September 2001, dunia intelektual di Indonesia diharubiru dengan diskursus mengenai benturan antar peradaban. Padahal, menurut Sen, setidaknya ada dua kelemahan teori peradaban yang dicetuskan oleh Samuel Huntington ini: Pertama, kelemahan paling mendasar terletak pada digunakannya satu bentuk yang sangat ambisius dari ilusi tentang ketunggalan. Ilusi ketunggalan ditarik dari asumsi bahwa seseorang tidak mungkin dipahami sebagai satu pribadi dengan banyak afiliasi, tidak pula sebagai orang yang menjadi bagian dari berbagai kelompok yang berbeda-beda, melainkan semata sebagai bagian dari kolektivitas tertentu yang memberinya identitas unik dan penting (h. 60). Kedua, pendekatan peradaban juga cenderung mengabaikan kebhinekaan yang ada dalam tiap-tiap peradaban yang dicontohkan (h. 61-62).

Kritik pedas yang dilancarkan Sen sungguh tepat. Sebab, cara pandang yang dibangun oleh Huntington cukup mengilhami dunia politik Barat dalam memandang dunia Islam. Serangan sepihak AS ke Irak, Afghanistan, dan bantuan militer kepada Israel merupakan bukti konkret betapa Barat masih kental menganut cara pandang yang diametral itu. Sen menegaskan perbedaan antara “aneka afiliasi yang dimiliki seorang Muslim” dan “identitas khususnya sebagai seorang Islam.” Agama, menurutnya, “tidak bisa dijadikan identitas mutlak yang melingkupi keseluruhan identitas seseorang.”

Kita bisa menangkap mengapa Sen sedemikian jernih melihat persoalan kekerasan berbasis identitas ini. Latar belakang sosiologis dan kulturalnya sebagai seorang India membuatnya memiliki pengalaman riil dalam kebhinekaan dan konflik dalam kebhinekaan itu. Dengan jitu ia mengambil contoh India sendiri untuk merontokkan tesis Huntington. India digolongkan sebagai “peradaban Hindu” dalam pengkotak-kotakan peradaban ala Huntington, padahal “India memiliki jumlah penduduk Muslim terbesar ketimbang negara mana pun di dunia kecuali Indonesia dan berbeda tipis dengan Pakistan.” (h. 62). Sen menegaskan bahwa cara pandang Huntington ini memang banyak dipakai oleh semua golongan yang menginginkan eksklusivitas dan uniteralisme, misalnya kelompok ekstremis Hindu di India dalam gerakan Hindutva.

Lebih dari itu, persepsi tentang ketunggalan ini bukan hanya menghinggapi cara pandang “Barat” terhadap “Islam”, melainkan juga “Timur” terhadap “Barat”, bahkan “Barat” terhadap dirinya sendiri. Kemunculan pemahaman dominan pada persepsi intelektual kita memang tidak bisa dilepaskan dari klaim Barat tentang ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan. Padahal, fakta itu tidak memiliki argumentasi empiris (h. 66). Demokrasi misalnya. Klaim bahwa demokrasi itu produk Barat memiliki kerancuan karena: Pertama, adanya klasifikasi arbitrer yang mendefinisikan peradaban dalam kaidah-kaidah yang umumnya rasial. Kedua, sejarah demokrasi bukan satu-satunya milik Barat. Negara-negara timur juga sudah lama mengadopsi nilai-nilai itu bahkan jauh sebelum negara Barat. Ketiga, salah satu praktik demokrasi selain masalah pemilihan umum, juga masalah musyawarah. Di negara-negara Timur, praktik itu juga sudah dipraktikkan lama (h. 69 -70).

Lebih jauh, pemilahan berdasarkan peradaban memiliki banyak cacat, karena: Pertama, pada masalah metodologis yang cukup mendasar menyangkut asumsi implisit bahwa pemilahan berdasarkan peradaban merupakan satu-satunya bentuk pengelompokan yang relevan dan menenggelamkan cara lain dalam mengidentifikasi manusia. Kedua, pendekatan ini terletak pada penggambaran yang amat serampangan dan keawamannya mengenai sejarah sehingga implikasinya menghasilkan pemahaman yang sungguh dangkal (h. 75-76).

Akhirnya, Sen memberikan semacam pernyataan yang jitu dalam menggambarkan analisisnya tentang kekerasan itu. Menurutnya, kekerasan sektarian di seantero dunia saat ini tidak kalah keji dan tidak pula kalah picik dibanding 60 tahun silam.Yang melandasi brutalitas maha kejam ini adalah kerancuan konseptual mendasar tentang identitas manusia, yang mengubah manusia multidimensi menjadi mahluk satu dimensi (h. 224). Pada bagian lain, ia lebih menegaskan bahwa keahlian untuk mengobarkan kekerasan tidak lain didayagunakan untuk meniadakan kebebasan berfikir dan peluang untuk menalar (h. 226).

Maka menjadi semakin jelas bahwa benang merah dari pesan-pesan semua tulisan Sen, termasuk pada buku-buku lainnya, adalah memperjuangkan etik pembebasan yang operasionalisasinya bisa diterjemahkan dalam dunia yang multi dimensi. Itulah dunia yang menghargai kebebasan sebagai anugerah terindah yang bisa dicecap manusia untuk mengkonstruksi berbagai peradaban.

Dalam konteks Indonesia, Sen seakan-akan memberikan cara pandang baru bagi kita dan juga para pengambil kebijakan untuk lebih jernih melihat persoalan kekerasan ini. Dalam beberapa kasus, kita harus angkat topi kepada aparat yang mampu cukup obyektif melihat fakta ini di lapangan. Misalnya, ketika seorang teroris ditangkap tidak serta merta keluarganya (istri atau orang tuanya) disamaratakan. Tapi hal ini tidak terjadi pada kasus keluarga orang-orang yang dituduh terlibat PKI. Anak cucu mereka yang tidak tahu apa-apa terus mengalami kekerasan struktural berupa stigma dalam masyarakat, sekalipun sejarah tentang kejadian ini masih diperdebatkan sampai sekarang.

Cara pandang buku ini penting untuk dijalarkan agar dunia kita ke depan menjadi dunia yang tidak lagi berhadap-hadapan dalam semangat permusuhan. Semangat untuk saling memusuhi ini bagi Sen bukan semata-mata ditimbulkan oleh niat jahat, namun lebih banyak oleh kesalahan cara pandang. Karena itu, “kita harus memastikan benak kita tidak terkurung oleh cakrawala pandang kita sendiri.” (h.238)

Tantan Hermansah
Timbangan buku ini dimuat di KORAN TEMPO, 29 April 2007