Tulisan ini berusaha merekonstruksi konsep teologi atas tanah (teologi agraria). Ini merupakan sebuah perspektif bahwa masalah ketimpangan akses atas sumber-sumber agraria bukanlah persoalan sosial ekonomi semata, tetapi juga terkait dengan persoalan keagamaan, khususnya tafsir atas suatu doktrin oleh para pelaku utama keagamaan. Dengan kata lain, ketimpangan akses atas sumber-sumber agraria menjadi semakin mapan karena adanya legitimasi yang mengatasnamakan nilai-nilai ‘baik’ dari agama yang dikemukakan oleh para pemuka agama tersebut. Untuk itu, Teologi Agraria dicita-citakan menjadi suatu instrumen pendobrak kebekuan yang selama ini dihegemoni oleh ‘penguasa agama’ maupun penguasa sumber-sumber agraria yang berlebihan, yang mengakibatkan terjadinya kemiskinan yang tidak berkesudahan. Dengan demikian, ‘kebekuan’ jika boleh digunakan istilah ini gerakan agraria yang selama ini lebih banyak bergerak di aras sosial-ekonomi-politik, bisa semakin solid dan punya amunisi baru. Dalam konteks ini, perjuangan agraria tidak semata rnerupakan persoalan sosial, namun juga perjuangan untuk menegakkan nilai-nilai keagamaan.

Selengkapnya silahkan diunduh di:

http://brighten.or.id/brighten/index.php/opinion/tantan-hermansah/92-teologi-agraria-rekonstruksi-konsep