“Menabung!”, pasti banyak sekali bangsa Indonesia yang memiliki tabungan. Jenisnya bermacam-macam. Ada yang di bawah kasur/ bantal, ada di celengan, ada di bank, atau dalam instrument lain, seperti emas-perak, dinar-dirham, asset property, dan sebagainya.

Nah, coba lihat. Semua aktivitas menabung pasti, atau minimal kebanyakan diawali dengan niat dulu. “Mau nyimpen duit ah. Untuk beli Ferrary”, misalnya. Itu niat. Atau “Mau nambung untuk nambah-nambah modal beli hotel”, itu juga niat.

Jadi hampir jarang orang yang menabung karena tidak sengaja. Misalnya: tidak sengaja datang ke Bank terus buka rekening deposito; tidak sengaja beli rumah; tidak sengaja beli Jet pribadi. Dalam batas minimal dan sederhana sekalipun, menabung pasti diawali kesengajaan.

Oleh karena sengaja, eligibilitas kita kemudian dipenuhi. KTP, uang atau barang yang akan ditabungkan, dan mengisi formnya.

Mohon maaf saya sengaja membuat contoh menabung atau membeli sesuatu dengan sesuatu yang besar dan mewah. Karena tulisan ini bukan dimaksudkan untuk menulis tentang tabungan material-duniawi, tetapi tabungan amal untuk akhirat nanti.

Seperti sudah saya tulis di atas, bahwa untuk menabung itu kita harus memenuhi persyaratan. Untuk menabung dunia saja butuh, apalagi memiliki account tabungan akhirat. Ada beberapa persyaratan yang mirip dengan ketika kita buka account tabungan itu.

Pertama, identitas harus jelas. Siapa Anda, dari keyakinan dan kepercayaan apakah. Jika seorang Muslim, identitasnya itu adalah mengucapkan dua kalimah syahadat. Itu jadi password untuk mendapatkan account amal kita.

Selanjutnya mengisi formulir kesediaan. Di dalamnya ada semacam perjanjian antara kita dengan Allah. Perjanjian itu antara lain seperti disebutkan di Al Qur’an, ketika Allah bertanya: “Apakah AKu ini Tuhanmu?” dan kita semua telah menjawab: “Benar!”

Perjanjian itu, sebagaimana perjanjian di Bank, juga memiliki konsekwensi-konsekwensi. Ada hak dan ada keajiban yang semuanya berimplikasi kepada kita sendiri nantinya. Bedanya dengan tabungan di Bank, yang jika administrasinya tidak kita bayar akan menyebabkan account kita ditutup, account kita untuk tabungan akhirat itu hanya akan ditutup ketika kita sudah tutup usia.

Ketiga, hal minimal yang harus kita siapkan sebagai untuk membuka account itu adalah dana (fund) yang akan kita simpan agar tabungan itu semakin besar saldonya. Berbeda dengan tabungan di bank, tabungan amal kita di account akhirat itu, bisa bertambah dan berkurang tergantung jenis simpanannya.

Ada simpanan yang pertambahannya pelan. Ada yang cepat, ada yang lebih cepat.

Tapi ada juga yang simpannya justru mengurangi saldo yang ada.

Begitulah dinamika dan problematika tabungan akhirat. Ia hampir serupa, tetapi tidak sama dengan tabungan duniawi.

***

(tulisan ini sebagian kata pengantar dari buku saya, insya Allah)