http://politik.kompasiana.com/2012/11/23/tayangan-video-kunker-anggota-dpr-yang-salah-alamat-ke-din-berlin-jerman-itu-511091.html

ditulis oleh Daniel HT

[catatan: judul di atas berbeda dengan tulisan aslinya, maaf]

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Berlin, Jerman baru saja mengunggah di Youtube video rekaman “kunjungan kerja” anggota DPR yang “kesasar” ke DIN (Deutsches Institut für Nörmung), Berlin, dengan judul [PPI Berlin] Fakta Kunker Baleg DPR-RI ke DIN . (Deutsches Institut für Nörmung).

Studi banding ala DPR-RI adalah dalam rangka penyusunan RUU Keinsinyuran (begitu nama unik yang diberika DPR untuk RUU tersebut), ternyata salah alamat karena DIN tidak membidangi standarisasi kompetensi profesi profesi, tapi standarisasi produk dan proses produk. DIN juga bukan lembaga pemerintah/negara, tidak berkapasitas dalam bidang legislasi. Fokus bidang DIN adalah riset dan edukasi.

Meskipun sudah tahu salah alamat, anggota-anggota DPR yang ternyata sebagian besar tidak bisa bahasa Inggris dan Jerman itu, tetap nekad maju terus. Akibatnya semakin parah, kelihatan menjadi seperti sekumpulan badut, hanya memamerkan kebodohan, dan bikin malu bangsa. Terungkap pula di sana, mereka juga ternyata tidak menguasai materi yang hendak mereka tanyakan, ada dua orang dari mereka datang terlambat, — baru tiba pukul 11:45, padahal acara sudah dimulai sejak pukul 10.00, berakhir pukul 12.00, dengan menenteng kopor, ada yang malah bermain dengan ponselnya ketika acara diskusi sedang berlangsung. (Baca tulisan saya yang berjudul Studi Banding Anggota DPR: Jauh-jauh ke Jerman Hanya Pamer Kebodohan).

http://politik.kompasiana.com/2012/11/21/studi-banding-anggota-dpr-jauh-jauh-ke-jerman-hanya-pamer-kebodohan-510720.html

Ketika saya mengunduh dan menonton rekaman video tersebut di Youtube, anak saya yang baru berusia 10 tahun, kelas 5 Sekolah Dasar, bertanya kepada saya, “Film apa itu, Pa?” Saya jelaskan, “Itu anggota DPR ke Jerman.” Terus dia tanya lagi, “Mereka pintar bahasa Jerman, ya, Pa?” Saya jawab, “Tidak.”

“Kalau begitu, pasti bisa bahasa Inggris, ya, Pa?”

“Sebagian besar tidak bisa,” jawab saya lagi.

“Lho, kalau begitu bagaimana caranya mereka bekerja dan bicara dengan orang-orang di sana, Pa? Pa, Pa, aku kira mereka orang-orang pintar!”

Bayangkan anak kelas 5 SD saja bisa ngomong begini?!

*

Dari tayangan video tersebut, terlihat sejak awal kedatangan anggota Baleg DPR-RI itu tidak disambut dengan terlalu serius. Mungkin DIN merasa kedatangan anggota DPR itu bukan sesuatu yang penting, pun bingung, untuk apa dan kenapa anggota-anggota DPR itu datang ke mereka. Terlihat dari ketika tiba di kantornya dengan bis, tidak ada yang menyambutnya. Hanya ada disambut dua orang di depan pintu masuk, itupun sebelum semua anggota DPR masuk, mereka semua sudah masuk ruangan. Begitu juga ketika pulang, tidak ada satu pun pejabat DIN yang mengantar mereka.

Suasana di dalam ruangan acara juga benar-benar terlihat sangat kaku, seperti yang dilaporkan PPI sebelumnya. Komunikasi berlangsung dengan tidak lancar karena terkendala bahasa. Anggota-anggota DPR yang terlihat kikuk itu saling bicara sendiri, sedangkan dua pejabat DIN yang mendampingi mereka, hanya diam saja. Tidak tahu harus berbuat apa. Salah satunya hanya mengutak-atik laptop di depannya.

Ketika acara sudah berlangsung, terdengar suara salah satu anggota DPR yang berkata, “Nanti supaya ndak binggung apa yang disampaiken dia, sampaikan bahasa Indonesia. Nanti, bapak saya ngomong, sampaiken bahasa Inggris.”

“Yaaaa, bahasa Jerman … bahasa Jerman, …”

“Bahasa Jerman? Mau bahasa Jerman atau Inggris?”

“Presentasinya bahasa Inggris, Pak …”

Terdengar suara tawa berderai dari anggota-anggota DPR yang sedang bingung itu. Kelihatan memang mereka tidak merasa malu atas kekonyolan-kekonyolan mereka itu sen diri.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam bahasa Indonesia pun disampaikan dengan tertatih-tatih, seperti orang yang sedang mencari-cari kata-kata yang tepat. Komunikasi berlangsung dengan kaku, kikuk, dan kalimat-kalimat pendek-pendek saja.

Tayangan video kemudian memperlihatkan, sekitar pukul 11:45, atau 15 menit menjelang acara selesai, ada dua orang anggota DPR yang baru tiba dengan taksi. Mereka datang dengan menenteng kopornya masing-masing. Tertatih-tatih dengan barang bawaannya menuju ke dalam gedung DIN. Sudah datang begitu terlambat, tapi tetap santai saja.

Ini dua anggota DPR yang baru tiba sekitar pukul 11:45. Padahal acara sudah dimulai sejak pukul 10.00 (Sumber: Youtube PPI Berlin, Jerman)

Dua anggota DPR ini mungkin keliru, mengira Gedung DIN, Berlin, Jerman ini adalah hotel. Lihat barang bawaan mereka (Sumber: Youtube PPI Berlin, Jerman)

Menurut seorang perempuan yang mendampingi mereka, dia baru saja menjemput mereka dari bandara Tegal. Dia juga bingung, harus dibawa ke mana dua anggota DPR itu. Kelihatan dua anggota DPR itu pun tidak tahu mereka harus ke mana.

Selengkapnya silakan nonton sendiri tayangannya di Youtube di bawah ini: